Penundaan Liga 1 2023/24: Bukti Kompetisi yang Diurus Semaunya

[ad_1]

Oleh: Arienal A Prasetyo & Randy Aprialdi S

Bacaan Lainnya

Keputusan menghentikan Liga 1 2023/24 untuk mengakomodir Indonesia di Piala Asia U-23 layak dipertanyakan kepada PSSI dan LIB. Alih-alih memprioritaskan kompetisi yang hampir selesai, PSSI justru mementingkan turnamen kelompok umur yang jelas-jelas tidak masuk kalender FIFA.

Meski bagian dari kualifikasi menuju Olimpiade Paris, hal itu toh tidak akan mengubah sifat kompetisi yang hanya kelompok umur. Di sisi lain, surat pembatalan terbit sehari jelang pekan ke-31 dimulai.

Penundaan Liga 1 diklaim demi memaksimalkan persiapan dan performa Timnas (Tim Nasional) Indonesia U-23 di Piala Asia. Apa yang mau dikejar PSSI?

Dihentikannya liga 1 menjadi bukti PSSI tidak mempunyai tujuan prioritas pembangunan sepakbola yang berbasis kompetisi yang sehat. Orientasi prestasi yang cuma bertumpu pada timnas adalah logika yang tidak masuk akal.

Narasi “demi timnas,” akan sangat berbahaya jika direproduksi karena ekosistem sepakbola lokal (kompetisi) akan sangat terganggu. Prestasi sepakbola bukan melulu soal Indonesia juara turnamen apa atau mencetak sejarah apa.

Prestasi sepakbola itu termasuk keberhasilan PSSI menyusun program-program jangka pendek maupun panjang yang tidak hanya membicarakan timnas (dan naturalisasi), tapi sepakbola Indonesia secara umum dan menyeluruh.

Tidak ada lagi tim yang menunggak gaji pemainnya, jadwal kompetisi berjalan sebagaimana yang telah ditentukan, kualitas perangkat pertandingan diperbaiki, pembinaan usia muda dijalankan dengan baik, serta masih banyak lagi yang lainnya, merupakan wujud prestasi di luar trofi, yang entah kapan dan dengan cara apa PSSI mewujudkannya.


Penundaan berarti hilangnya pemasukan dari pertandingan dan sponsor, yang dapat mengganggu stabilitas keuangan klub peserta Liga 1 2023/24. Momentum perkembangan sepak bola nasional pun sudah pasti menghambat kemajuan para pemain dan terganggunya ekosistem sepak bola secara keseluruhan.

Tapi yang jelas bahwa citra PSSI dan LIB kembali tercoreng oleh keputusan yang terkesan tidak matang ini. Artinya, Penundaan Liga 1 2023/24 bukanlah solusi terbaik. PSSI dan PT LIB harus mencari alternatif lain yang lebih bijak dan tidak merugikan semua pihak.

Lagi-lagi, kompetisi dengan segala ekosistemnya harus luruh karena keputusan yang diambil serba tergesa. PSSI dan LIB seolah tidak belajar dari kesalahan penjadwalan yang sudah sering terjadi pada musim-musim sebelumnya.

Atau PSSI dan LIB memang tidak bisa menyesuaikan jadwal kompetisi domestik dengan agenda internasional yang lebih rapi dan matang? PSSI yang sudah berusia 94 tahun, apa masih tidak bisa memaksimalkan program pemusatan latihan timnas tanpa mengganggu kompetisi domestik? Ketergesaan ini seolah mereka tidak ingin ambil pusing.

Sebab liga yang baik saja belum tentu menghasilkan timnas yang baik dan berprestasi, apalagi liga yang diurus semau-maunya tanpa target jangka pendek dan panjang yang jelas?

Euforia gemilangnya Indonesia yang tampil apik di dua laga terakhir melawan Vietnam pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukanlah menjadi pembenaran bahwa euforia keberhasilan itu harus diikuti juga oleh timnas kelompok umur.



[ad_2]

Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *