Dampak AFC dan AFCON: Adaptasi Kepincangan Klub Liga Inggris Tanpa Talenta Asia dan Afrika

FI AFC AFCON


Januari berpotensi menjadi salah satu bulan yang menentukan hasil akhir Liga Inggris musim 2023/2024. Bukan tentang jendela transfer, tapi tentang “hilangnya” pemain asal Afrika dan Asia yang harus membela negaranya dalam Piala Asia (AFC) dan Piala Afrika (AFCON). Hampir semua tim mengalami “penipisan” kecuali Burnley, Newcastle United, dan Manchester City. Kondisi ini membuat setiap tim harus beradaptasi untuk menjaga performanya.

Bacaan Lainnya

Secara umum, situasi ini menjadi momen uji kelentingan bagi klub di Liga Inggris dalam beberapa pekan. Kelentingan yang dimaksud adalah kemampuan setiap klub untuk bertahan pada kondisi tidak ideal hingga pulih kembali ke keadaan yang seimbang. Dalam hal ini Man. City, Burnley, dan Newcastle United tentu sangat diuntungkan karena tidak ada paksaan adaptasi akibat kehilangan pemain yang berlaga di AFC atau AFCON.

Dua kompetisi tersebut (AFC dan AFCON) dihelat pada rentang waktu yang hampir berhimpit. AFC berlangsung dari tanggal 12 Januari sampai 10 Februari 2024. Sementara AFCON akan dihelat sejak tanggal 13 Januari hingga 11 Februari 2024. Jika disandingkan dengan jadwal Liga Inggris, agenda AFC dan AFCON bersamaan dengan pekan laga ke-21 sampai ke-24 (dengan asumsi berlaga hingga partai final).

Berikut adalah daftar pemain yang absen untuk berlaga di AFC atau AFCON :

Arsenal

Takehiro Tomiyasu

Jepang

Mohamed Elneny

Mesir

Aston Villa

Bertrand Traore

Burkina Faso

Bournemouth

Dango Ouattara

Burkina Faso

Brentford

Yoanne Wissa

Kongo

Ji-Soo Kim

Korea Selatan

Saman Ghoddos

Iran

Frank Onyeka

Nigeria

Brighton and Hove Albion

Simon Adingra

Pantai Gading

Tariq Lamptey

Ghana

Kaoru Mitoma

Jepang

Chelsea

Nicolas Jackson

Senegal

Crystal Palace

Jordan Ayew

Ghana

Everton

Idrissa Gueye

Senegal

Fulham

Fode-Ballo Toure

Senegal

Calvin Bassey

Nigeria

Alex Iwobi

Nigeria

Liverpool

Wataru Endo

Jepang

Mohamed Salah

Mesir

Luton Town

Issa Kabore

Burkina Faso

Manchester United

Andre Onana

Kamerun

Sofyan Amrabat

Maroko

Amad Diallo

Pantai Gading

Nottingham Forest

Serge Aurier


Pantai Gading

Willy Boly

Pantai Gading

Ibrahim Sangare

Pantai Gading

Cheikou Kouyate

Senegal

Moussa Niakhate

Senegal

Ola Aina

Nigeria

Sheffield United

Anis Ben Slimane

Tunisia

Yasser Larouci

Algeria

Tottenham Hotspur

Pape-Sarr

Senegal

Heung-Min Son

Korea Selatan

Yves Bissouma

Mali

West Ham United

Nayef Aguerd

Maroko

Mohamed Kudus

Ghana

Wolverhampton Wanderers

Hee-Chan Hwang

Korea Selatan

Rayan Ait-Nouri

Algeria

Boubacar Traore

Mali

Justin Hubner

Indonesia

Secara kuantitas, Nottingham Forest merupakan tim paling “dirugikan”. Ada enam pemain yang harus absen demi membela negaranya. Sebagian besar dari nama-nama tersebut merupakan tulang punggung dengan kontribusi besar untuk tim. Terutama Willy Boly dan Moussa Niakhate yang merupakan duo bek tengah dengan penampilan terbanyak musim ini. Situasi ini tentu menjadi tantangan sendiri bagi pelatih baru mereka, Nuno Espirito Santo, untuk mencari pengganti sepadan Boly dan Niakhate dalam waktu yang singkat. Deputi terkuat diperkirakan jatuh kepada Murillo dan Joe Worral.

Jika berkaca pada jadwal, terdapat beberapa tim yang diperkirakan akan lebih “menderita”, yaitu Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Wolverhampton Wanderers. Jika melihat jadwal pekan ke-21 hingga ke-24 Liverpool akan bertemu dengan lawan berat, menjamu Chelsea (1/2) dan bertandang ke Emirates Stadium (4/2). Hanya selisih tiga hari saja. Sementara Spurs, akan berhadapan dengan Manchester United di Old Trafford (14/1). Wolves tidak kalah kesulitan. Pekan ke-22 harus menjamu Manchester United (2/1) dilanjutkan dengan bertandang ke Stamford Bridge (4/2).

Selain jadwal, tiga tim tersebut punya tugas adaptasi lebih pelik sebab pemain yang absen merupakan pemain “kunci”. Liverpool akan kehilangan Mohamed Salah yang tercatat sebagai pemain dengan kontribusi gol tertinggi di Liga Inggris (14 gol/8 asis) dan Wataru Endo yang menjadi andalan Juergen Klopp di posisi gelandang bertahan. Spurs kehilangan tiga pilar pentingnya yaitu Son Heung-Min, Pape-Sarr, dan Yves Bissouma. Son merupakan kapten tim, salah satu pemain paling senior, dan top skor klub sementara (12 gol). Sementara Sarr dan Bissouma adalah duet pivot terkuat yang dimiliki Ange Postecoglou. Wolves kehilangan Hwang Hee-Chan yang menjadi pencetak gol terbanyak (11 gol).

Pada situasi ini tiga tim tersebut tidak memiliki jalan lain selain beradaptasi. Bagaimana caranya?

Liverpool

Meski hanya kehilangan dua pemain, Liverpool punya pekerjaan besar untuk menutupi celah yang ditinggalkan Salah dan Endo. Kontribusi dua pemain ini dalam 20 laga di Liga Inggris musim ini sangat krusial. Posisi pemain yang akrab dipanggil Mo tersebut hampir tak tergantikan. Meski telah menginjak usia 31 tahun, Salah hampir selalu bermain 90 menit. Dari 20 laga, hanya empat pertandingan Salah ditarik keluar. Tidak heran jika ia menjadi andalan Klopp sebab kehadirannya di lapangan telah menyumbang 14 gol dan delapan asis. Sementara Endo, tampil solid sebagai gelandang bertahan. Meski tidak selalu masuk dalam daftar sebelas pertama, tapi Endo selalu membalas kepercayaan Klopp setiap kali dia dibutuhkan.

Pada situasi ini, prioritas Klopp tentu mencari cara agar serangan Liverpool tetap tajam meski tanpa Salah. Tidak bisa dipungkiri bahwa sepanjang musim berjalan, serangan Liverpool sangat dipengaruhi oleh Salah. Jika dihitung rasionya, Salah berkontribusi terhadap 51 persen produktivitas The Reds. Pemain yang paling mendekati kontribusi Salah adalah Darwin Nunez (25 persen) dilanjutkan dengan Diogo Jota (13 persen). Dari data tersebut Klopp perlu khawatir karena selisih kontribusi Salah dengan pemain lain terpaut cukup jauh.

Kandidat paling besar peluangnya menempati posisi Salah adalah Harvey Eliott. Sebab jika berkaca pada empat pertandingan di liga ketika Salah ditarik keluar, Klopp menempatkan Eliott pada posisi Salah. Masalahnya memang secara individu, Eliott belum sampai di level Salah. Secara teknik individu, Eliott masih bisa bersaing. Tapi, dari sisi insting, pengambilan keputusan, mentalitas, pemuda berusia 20 tahun tersebut masih terlampau jauh. Dilansir dari The Athletic, Eliott mengaku bahwa ia mampu bermain di posisi tersebut.

“Itu adalah posisi yang bisa saya mainkan. Saya tumbuh dengan bermain di sana sebagai seorang anak. Saya harus siap karena mungkin saya bisa bermain lebih melebar, tetapi kami juga memiliki pemain lain yang bisa bermain di sana.” ujar Eliott via The Athletic.

Opsi lainnya adalah Cody Gakpo dan Diogo Jota. Dua pemain ini bukan pemain reguler, tapi dua pemain ini dalam beberapa pertandingan memainkan peran yang mirip dengan peran yang biasa dimainkan Salah. Gakpo pada pertandingan kontra Arsenal masuk di babak kedua. Ia bermain lebih melebar di sayap kanan. Begitu juga dengan Jota yang terbukti versatile. Jota juga punya efektivitas tertinggi di antara semua pemain Liverpool. Dari 14 pertandingan yang ia mainkan, Jota mencetak lima gol hanya dari 3,1 angka harapan gol (xG).

Tottenham Hotspur

Potensi Son berlaga hingga laga final AFC sangat besar. Ia bersama Korea Selatan merupakan salah satu tim unggulan. Oleh karena itu, Ange Postecoglou perlu memikirkan cara agar tim besutanya tidak kehilangan ketajaman dalam beberapa pekan. Son selalu menjadi pemain andalan dalam hal mencetak gol, apalagi setelah Harry Kane terbang ke Jerman. Son bahkan bermain di beberapa posisi. Musim ini, Son lebih banyak bermain di sayap kiri. Tapi, ketika Richarlison memiliki masalah dalam efektivitas, Son bermain sebagai penyerang tengah. Soal kontribusi, Son tidak perlu diragukan. Dari 20 pertandingan, ia telah mencetak 12 gol dan lima asis. Catatan tersebut menunjukan bahwa Son berkontribusi sebanyak 40 persen terhadap total gol Tottenham Hotspur hingga pekan ke-20.

Beruntung, James Maddison yang telah lama menepi akibat cedera diperkirakan akan kembali pada tanggal 14 Januari 2024. Kembalinya Maddison tentu akan menambah daya serang Spurs yang harapanya mampu menutup kekosongan ketika Son berlaga untuk negaranya.

Jika Ange mencari pemain untuk memainkan peran Son, maka kandidat terkuatnya adalah Brennan Johnson. Mantan pemain Nottingham Forest tersebut telah tampil dalam 14 pertandingan di semua kompetisi. Brennan mampu bermain di dua sayap, ia beberapa kali bermain di posisi Son ketika Ange menempatkan pemain asal Korea Selatan tersebut sebagai penyerang tengah. Meski kontribusi Brennan terhadap gol masih jauh dari capaian Son, tapi ia memiliki atribut yang mirip dengan Son. Brennan memiliki kecepatan, teknik giringan bola, dan kemampuan duel satu lawan satu yang bisa ia andalkan untuk menambah ketajaman Spurs. Jika Brennan jadi pilihan Ange, ia bisa memasangnya bersama Richarlison sebagai ujung tombak dan Kulusevski di sayap kanan.

Tugas Ange tidak berhenti di Son, sebab Pape-Sarr dan Bissouma tidak kalah pentingnya terhadap organisasi tim. Sarr dan Bissouma tampil bersama dalam 10 dari 20 pertandingan di liga. Jika dua pemain ini tampil bersama, organisasi Spurs sangat terjaga baik pada fase menyerang, bertahan, maupun transisi. Tapi jika salah satu dari mereka absen, terlihat jelas bahwa struktur yang didesain Ange lebih rapuh.

Jika berkaca pada kedalaman skuad Spurs, sulit mencari pengganti sepadan Sarr dan Bissouma. Kandidat terbaiknya adalah Pierre-Emile Hojbjerg. Pemain asal Denmark tersebut memiliki atribut yang mirip dengan Bissouma. Musim lalu, ia menjadi pasangan serasi Rodrigo Bentancur pada sistem Antonio Conte yang cenderung pasif. Namun sistem yang dibangun Ange jauh berbeda dari Conte. Ange lebih sering memasangkan Hojbjerg dengan Oliver Skipp di belakang gelandang serang. Maka dari itu, kemungkinan besar Ange akan memainkan duet tersebut (Hojbjerg-Skipp).

Wolverhampton Wanderers

Sama seperti Liverpool dan Spurs, Wolves juga akan ditinggalkan (sementara) oleh pemain dengan produktivitas tertinggi, yaitu Hwang Hee-Chan. Wolves yang duduk di peringkat ke-11 sempat mencuri perhatian ketika mengalahkan Manchester City. Sayangnya Pedro Neto harus menepi lama akibat cedera yang berdampak pada ketajaman serangan. Meski demikian, Hwang tampil cukup konsisten dan menjelma sebagai pencetak gol terbanyak dengan catatan 10 gol dan tiga asis. Sedikit lebih banyak dari Matheus Cunha yang baru mencetak enam gol dan lima asis.

Sama seperti Son, Hwang berpotensi besar bermain di laga pamungkas AFC sebab Korea Selatan merupakan salah satu tim unggulan. Gary O’Neil bertanggung jawab penuh untuk menambal “lubang” yang ditinggalkan Hwang.

Jika berkaca pada kedalaman skuad yang dimiliki Wolves, dan kecenderungan O’Neil ketika menggantikan Hwang dalam satu pertandingan, terdapat beberapa kandidat yang paling memungkinkan tampil menggantikan Hwang. Kandidat pertama adalah Sasa Kaladzic. Hwang yang sering bermain sebagai ujung tombak sesuai dengan posisi natural Kaladzic. Ia tampil cukup efektif dengan catatan tiga gol dari menit bermain yang sangat minim (280 menit). Kandidat kedua adalah Joao Gomes. Jika O’Neil memilih Gomes maka kemungkinan besar Cunha yang akan digeser sebagai penyerang tengah dan Gomes bermain di belakangnya bersama Pablo Sarabia.

Tidak banyak pilihan bagi Gary O’Neil mengingat Wolves tidak memiliki kedalaman tim yang mumpuni. Tidak menutup kemungkinan jika O’Neil mengubah sistem secara keseluruhan meski lebih berisiko.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *