Duel Papan Atas di Pekan Laga-Laga Sulit

[ad_1]

Manchester City akan menjamu Liverpool, Sabtu (25/11). Pertemuan ini akan menjadi sangat penting bagi tuan rumah agar tetap kokoh memuncaki klasemen usai mengemas 28 poin. Begitu pula bagi Liverpool yang terpaut satu poin saja di posisi kedua dan dibuntuti Arsenal yang hanya kalah selisih satu gol.

Bacaan Lainnya

Pekan pertandingan sebelumnya, Man City harus puas berbagi poin dengan Chelsea meskipun mereka mencetak skor empat kali. Torehan yang semakin memperbanyak tabungan gol The Citizens. Di ajang Liga Primer Inggris, itulah ketiga kali mereka mencetak lebih dari 3 gol, setelah pernah membantai Bournemouth 6-1 dan menumbangkan Fulham 5-1. Hingga pekan dua belas, City masih menyandang status top scorer dengan 32 gol.

Catatan skor City merupakan salah satu peringatan bagi pertahanan Liverpool. Menurut model Opta, gol City sudah melebihi 7,6 xG (expected goal). Kelebihan xG–berarti gol yang seharusnya dicetak berdasarkan kualitas peluang–menunjukkan anak asuh Pep Guardiola sangat baik mengonversi tembakan menjadi gol. Sebaliknya, Liverpool justru mencatatkan angka minus untuk selisih gol dan xG, yaitu kurang 1,5 dari 27 gol.

Baca juga: Mengupas Statistik Expected Goals

Mohamed Salah dan kawan-kawan pun menjalani musim ini dengan baik. Meskipun sempat terbukti menjadi korban salah keputusan offside dan berakhir kalah, itulah satu-satunya mereka pernah pulang tanpa poin. Liverpool bahkan pernah berhasil comeback memenangkan partai sengit di kandang Newcastle United, setelah tertinggal satu gol dan Virgil Van Dijk diganjar kartu merah sejak menit ke-28.

Menjadi dua tim yang kini sama-sama menduduki papan atas klasemen sementara Liga Inggris, pertemuan besok akan mempertontonkan perebutan dominasi dalam upaya mencari celah melancarkan serangan dan tembakan ke gawang lawan. Tekanan-tekanan intens akan dikerahkan keduanya ketika saling memblokade progresi lawan, berebut bola, hingga serangan balik.

Baik City maupun Liverpool mengandalkan highpress–tekanan di posisi tinggi–dan kerapatan formasi secara vertikal dengan meninggikan lini pertahanan. Jurgen Klopp tentu ingin mengulangi kemenangan terbesarnya kala bertamu ke Etihad Stadium pada tahun 2015, yang berakhir dengan skor 1-4. Berhubung dalam lima pertemuan terakhir di Liga Inggris, klub Manchester biru itu lebih mendominasi dengan mengemas 3 kemenangan dan 1 hasil imbang.

Memanfaatkan Overload dari Keunggulan Duel

Masih dengan andalan boks lini tengahnya, formasi 3-4-3 Josep ‘Pep’ Guardiola akan berupaya menguasai lini tengah. Namun ada tujuan selain memblokade bangun serangan lawan dari tengah.

Keunggulan duel para pemain City memungkinkan mereka juga unggul walaupun belum overload (menang jumlah). Dengan pemosisian sayap yang lebar, City akan meregangkan bentuk formasi lawan. Ditambah lini serang dan lini tengahnya aktif melakukan rotasi posisi, maka lawan bisa saja terpancing menekan sehingga ada ruang yang bisa dieksploitasi.

Liverpool harus mewaspadai rotasi yang berpotensi mengacaukan pertahanan itu, sebab City tidak segan mengerahkan hingga enam pemain pada fase menyerang. Saat lawan memegang bola dekat kotak penalti, tiga pemain di lini terdepan City akan memberi tekanan sekaligus menggiring build-up (bangun serangan) ke pinggir lapangan. Kombinasi 2 penyerang dan pemain sayap, atau penyerang bersama gelandang dan pemain sayap, atau penyerang yang tandem dengan duet gelandang serang, merupakan ancaman lapis pertama yang mencegah progresi lewat sektor tengah. Bersama keempat gelandang, pemain depan City membuat situasi overload.

Pemain City menang jumlah di sayap (sumber: Chelsea FC).

Strategi tersebut didukung keberadaan pemain seperti Bernardo Silva dan Rodri yang dapat menjaga area luas. Visi yang amat baik terutama kecermatan mengisi posisi, menjadikan pemain dengan atribut ini mengemban peran ganda. Mereka dituntut bergerak dengan tepat dalam tempo permainan cepat menjadi koneksi di boks gelandang sekaligus ruang antar lini.

Erling Haaland yang sempat cedera hingga harus absen dari membela Norwegia, punya kans kembali bermain Sabtu nanti. Meskipun tentu ada pengaruh dalam efektivitas eksekusi peluang, ketidakhadiran sang ujung tombak sebenarnya dapat teratasi. Tanpa Haaland, Phil Foden bisa tetap membuat lini serang City tajam. Tinggal bagaimana Pep meramu lini serangnya. Apakah tetap ingin memenangkan duel udara dari umpan lambung seperti Haaland, atau operan cepat yang memindahkan sisi serang via umpan satu-dua.

Di sisi kiri, Jeremy Doku sering menjadi target umpan lambung. Selain mampu bermain di ruang sempit, umpan pemain timnas Belgia itu klinis mencapai target. Kalaupun dia dikantongi, lawan yang menjaganya meninggalkan dan membuka ruang di lini kedua. Antisipasi ketika overload City gagal seperti ini, bergantung dari pemilihan pemain sayap yang menentukan kreativitas menciptakan peluang.



Doku menarik dua pemain lawan sehingga ada ruang di halfspace kiri (sumber: Chelsea FC).

Boks gelandang City sebenarnya memunculkan kelemahan di sektor sayap, namun relatif dapat terkendali dengan highpress dan intensitas permainan tinggi yang menuntut beberapa pemain melakukan cover area lebih luas. Boks gelandang ini juga menjadi tameng sebelum empat bek City yang sering kalah cepat. Beberapa kali, lawan dapat menembus lini pertahanan saat serangan balik, lalu memenangkan dribble melewati pertahanan City.

Ketika tidak siap, lini pertahanan City kalah cepat (sumber: Manchester City).

Pressing dan Transisi Cepat

Pakem formasi 4-3-3 Klopp yang berbahaya terletak pada caranya menekan sebagai unit. Pemain depan Liverpool tidak terburu-buru melakukan pressing. Mereka akan menunggu jarak antarlini agak dekat sebelum naik menghalangi akses dari bek tengah lawan ke tengah dan ke full back. Otomatis lawan bereaksi memprogresi serangan via umpan lambung.

Skema ini menguntungkan bagi transisi cepat Liverpool. Dengan mengerahkan tekanan terus-menerus dan berlapis-lapis, The Reds berupaya memenangkan bola lalu menyerang balik. Marking (menjaga pemain lawan) yang dilakukan anak-anak asuh Jurgen Klopp dengan disiplin memudahkan umpan-umpan terobosan.

Alexis Mac Allister adalah aktor utama pos gelandang. Atribut distribusi bola dan daya jelajah yang luas memberikan koneksi di ruang antar lini. Rekrutan baru dari Brighton itu melengkapi lubang di fase transisi yang menganga musim lalu, sehingga Trent Alexander-Arnold mendapat lisensi lebih untuk menyerang. Kemampuan full back kanan itu memberikan suplai bola dimanfaatkan Klopp yang kini menginstruksikan Alexander-Arnold bermain lebih ke dalam sebagai inverted full back–menjelajah sektor halfspace hingga ke tengah alih-alih berada di pinggir.

Alexander-Arnold sebagai inverted full back dan serangan Liverpool (sumber: Brentford).

Liverpool banyak menyerang dari sayap, terutama mengandalkan kelihaian Salah menggiring bola dan akurasi tembakannya walaupun dibidik dari sudut yang sulit. Ketika build-up, The Reds akan menargetkan sayap sebelah mana yang lebih memungkinkan untuk melancarkan serangan. Kedua pemain sayapnya–Salah di kanan dan Jota di kiri–fasih melakukan penetrasi di sepertiga akhir, cut inside (lari melewati lawan dari sayap ke tengah), maupun memindahkan serangan dengan cepat.

Jika dibandingkan dengan Manchester City, tim tamu lebih solid dalam bertahan, meskipun empat bek Liverpool sama-sama sering kalah cepat. Ketika mereka kehilangan bola, Liverpool relatif lebih cepat bereaksi membentuk kembali formasi bertahan. Walaupun kedua tim memiliki kiper sweeper yang nyaman menggunakan kakinya, lini belakang Liverpool relatif lebih cepat bereaksi melindungi posisi Alisson sehingga dia lebih nyaman melakukan penyelamatan di tempat yang agak jauh dari garis gawangnya.

Lini pertahanan Liverpool yang tinggi memblokade lawan (sumber: Brentford).



[ad_2]

Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *