Masa Muda Jadi Andalan, Rentan di Masa Depan

[ad_1]

Senin (20/11), Pablo Martin Paez Gavira mengalami cedera dan ditarik keluar dari pertandingan Spanyol melawan Georgia di babak kualifikasi Piala Eropa 2024. Gavi pun terpaksa menepi selama 8 bulan setelah terdiagnosis cedera ACL (ligamen persendian lutut) dan lateral meniscus (tulang rawan lutut).

Bacaan Lainnya

Sejak debut di usia 17 tahun pada Agustus 2021 silam, Gavi telah menjadi andalan di lini tengah Barcelona. Kini dia telah mencatatkan 7 gol dan 12 asis selama 111 penampilan bersama klub berjuluk Blaugrana tersebut.

Sayangnya di usia yang baru 19 tahun, produktivitas Gavi direnggut sementara oleh cedera yang menjadi ketakutan banyak atlet. Dari banyak kasus yang pernah menimpa pesepakbola, masalah ACL tidak berhenti sampai pemulihan saja. Perlu waktu agar dapat kembali ke performa yang baik.

Jika melihat jam terbangnya, Gavi sudah memainkan banyak pertandingan untuk anak muda seusianya. Musim ini saja, Barcelona sudah menurunkan Gavi sebanyak 15 kali dan 13 di antaranya menjadi sebelas pertama. Sementara di tim nasional Gavi mengoleksi 8 caps. Total 1746 menit Gavi merumput di level elit semua kompetisi.

Muda Bertalenta, Sayang Malah Cedera

Dipercaya pelatih sejak usia mereka masih hijau tentu saja menjadi mimpi para pesepakbola. Akan tetapi, fenomena anak muda andalan klub profesional yang lalu rentan cedera bukan berita yang langka.

Tabel berikut merangkum menit bermain sejumlah pesepakbola sebelum mereka menginjak 20 tahun. Data yang dihimpun hanya meliputi kompetisi senior, berhubung intensitas permainan di kelompok umur berada di level berbeda yang tidak sebanding dengan sepakbola profesional.

Dua legenda pemicu perdebatan pemain terbaik sepanjang masa, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi, tidak berada di posisi teratas. Ronaldo bahkan tidak mencapai rata-rata 60 menit tiap pertandingan meskipun mengemas 122 caps saat masih remaja.

Harry Kane yang tahun ini berusia 30 tahun dan masih berkompetisi di liga top Eropa, hanya merumput selama 3922 menit dalam 71 laga sebelum umurnya kepala dua. Ujung tombak Bayern Munchen itu bahkan memecahkan rekor pemain Inggris di Bundesliga dengan koleksi 18 gol pada musim perdana dan masih berstatus top skor musim ini.

Sementara itu, terdapat nama-nama yang masyhur karena rentan cedera, ternyata menembus 8000 menit ketika karirnya masih dini. Pemain seperti Arjen Robben, Eden Hazard, dan Neymar jr. akhirnya disayangkan sebab bakat mereka berkali-kali diinterupsi badai cedera. Hazard sebulan lalu memutuskan gantung sepatu di usia 32 tahun karena lebih sering jadi langganan dokter klub daripada turun sebagai sayap Real Madrid.

Ousmane Dembele yang terkenal “langganan BPJS” ada di jajaran bawah tabel dengan 5509 menit bermain. Namun sebelum rata-ratanya turun ke angka 68,01, Dembele pernah melebihi 70 menit per laga sampai usia 18 tahun. Pernah digadang-gadang menjadi bintang dengan dua kaki yang bermain sama bagusnya, performa Dembele sempat merosot kala usianya masih 19 tahun.

Kasus serupa dialami Jack Wilshere. Menginjak usia 18 tahun, mantan pemain Arsenal itu telah bermain selama rata-rata 71 menit per pertandingan. Wilshere bahkan absen selama musim 2011/2012, ketika usianya belum genap 20 tahun. Otomatis dia melewatkan seluruh pertandingan Arsenal, serta kesempatan membela Inggris di ajang Olimpiade musim panas dan Piala Eropa 2012.

Nasib Pemain Muda Sepakbola Indonesia

Jika meninjau isu yang sama di Liga 1 2023/24, banyak klub yang belum memberikan kepercayaan penuh pada pemain mudanya. Mereka yang memperoleh kesempatan turun ke lapangan, mayoritas karena regulasi PSSI yang mewajibkan minimal ada satu pemain U-23 bermain selama 45 menit tiap pertandingan.

Tabel berikut merangkum data menit bermain pemain Liga 1 dan tim nasional Indonesia yang berusia di bawah 20 tahun per 21 November 2023–setelah FIFA Matchday terakhir.


Tercatat hanya Gali Freitas yang menembus 2000 menit dengan rata-rata 78,76 menit per pertandingan. Sementara dari sejumlah pemain yang telah melebihi 1000 menit bermain, Kadek Arel Priyatna sudah dipercaya mengawal Bali United selama 81,28 menit tiap laga.

Adapun di antara pemain tim nasional yang masih remaja, ketiganya sudah bermain lebih dari 1000 menit. Namun jika ditinjau rata-ratanya, tidak ada yang melebihi 70 menit per laga. Paling banyak adalah kontribusi Marselino Ferdinan, gelandang serang KMSK Deinze, di 38 pertandingan dengan total 2432 menit dan 64 menit per laga.


Sejauh ini, baik para pemain muda Liga 1 dan pemain muda yang membela skuad Garuda musim ini, masih relatif aman dari cedera. Fakta ini mengisyaratkan bahwa menit bermain mereka masih aman. Walaupun memang banyak faktor yang menjadi alasan menepinya pesepakbola akibat masalah kesehatan, kelebihan menit bermain menjadi salah satu yang mesti diperhatikan klub.

Beberapa kasus penurunan performa akibat intensitas berlebih pernah terjadi. Pemain muda Liga Indonesia yang teken kontrak profesional karena klub melihatnya punya potensi, lalu usai pemain tersebut dipinang, dia akan menjadi andalan selama beberapa musim ke depan. Kelebihan menit bermain kemudian memicu kerentanan cedera yang mengharuskannya menepi dalam jangka waktu cukup panjang.

Febri Hariyadi, misalnya, pernah menjadi “anak emas” Persib Bandung sejak kiprahnya di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Dia tak tergantikan sebagai sayap yang dapat bermain di kanan maupun kiri selama era kepelatihan Mario Gomez dan Robert Rene Alberts.

Hingga cedera hamstring mendera Febri pada awal musim Liga 1 2021/2022, dia kesulitan kembali ke performa terbaiknya. September 2023, pemain berjulukan Bow itu absen lagi karena cedera paha yang parah. Bahkan setelah terkonfirmasi pulih oleh dokter klub, Rafi Ghani, Maung Bandung masih belum menjadikan Febri pilihan utama.

Debut Osvaldo Haay memperkuat Persipura di turnamen ISC 2016 juga memikat Persebaya Surabaya untuk mendapatkan jasa pemain kelahiran Jayapura itu. Osvaldo rajin starter selama dua musim memperkuat Bajul Ijo sampai menarik hati Persija Jakarta. Sayang catatan gemilangnya harus berhenti di Jakarta sejak dia dilanda cedera.

Dari ajang Piala AFF 2010, nama Nasuha melejit sebagai bintang. Pelatih Indonesia saat itu, Alfred Riedl, menurunkannya di setiap laga dan mencetak gol di final leg kedua melawan Malaysia. Sebelumnya dia membela klub besar, yaitu Pelita Krakatau Steel, Persikota Tangerang, Sriwijaya, dan Persija Jakarta. Tahun 2011, CV Nasuha membuat Persib kepincut mendatangkan bek sayap itu meski ada riwayat cedera lutut parah pada Desember 2010. Namun cedera itu justru menjadi awal petaka yang meredupkan karir Nasuha.

Sama-sama melejit paska prestasi di timnas Indonesia, Evan Dimas pernah digadang-gadang bersinar setelah mengalahkan Korea Selatan ketika menjadi kapten skuad Garuda Muda Piala AFF U-19 2013. Persebaya lalu menyodorkan kontrak profesional dua tahun berselang. Makin ciamik mengolah bola, Bhayangkara FC meminangnya. Di klub milik Polri itu, Evan juga tampil cantik yang membuatnya diboyong klub Malaysia, Selangor FC.

Di negri jiran, Evan tidak bicara banyak sehingga dia kembali ke tanah air. Evan sempat berseragam Persija, kembali ke Bhayangkara, dan Arema FC. Tetapi sejak musim lalu karirnya terganggu cedera sampai-sampai muncul rumor pensiun dini. Agennya, Muly Munial, menampik isu tersebut. Pada bursa transfer November ini, PSIS Semarang mendatangkan Evan dengan status pinjaman meskipun sudah hampir lima bulan sejak terakhir kali dia merumput bersama Singo Edan.

Risiko Cedera Pesepakbola Muda

Sebuah penelitian yang diterbitkan Journal of Athletic Training yang berjudul Analisis Insiden Cedera Pada Atlet Profesional Dewasa dan Muda (Pfirrmann, 2016), menunjukkan ada hubungan antara menit bermain dan risiko cedera. Paper ini membatasi penelitian untuk pesepakbola yang sudah berada di level profesional, dan atlet muda didefinisikan sebagai pemain yang belum genap 20 tahun.

Hasilnya memperlihatkan bahwa cedera ketika bertanding lebih banyak terjadi daripada cedera ketika latihan. Bagi pemain dewasa, pertandingan lebih memungkinkan mereka cedera. Sebaliknya, pemain muda lebih rentan cedera saat latihan. Secara keseluruhan baik akibat berlaga maupun berlatih, pemain muda lebih berisiko cedera.

Pada level profesional, pemain dewasa mengalami 3,3 sampai 15,3 (rata-rata 8,1) kali lebih banyak cedera ketika bertanding daripada saat latihan dan untuk pemain muda angkanya lebih kecil, yaitu 2,3 sampai 4,9 (rata-rata 3,8).

Kadar banyaknya insiden cedera saat bertanding untuk pemain dewasa merentang dari 8,7 sampai 65,9 kasus per 1000 jam (rata-rata 27,6), dan rentang untuk pemain muda adalah 9,5 – 48,7 kasus per 1000 jam (rata-rata 27,7). Sementara cedera yang terjadi pada pemain dewasa saat sesi latihan berada di rentang 1,37 – 5,8 kasus per 1000 jam (rata-rata 3,7), dan pada pemain muda 3,7 – 11,14 kasus per 1000 jam (rata-rata 6,9).

Berkaca dari fenomena yang telah terjadi, maka klub harus memikirkan perlakuan terhadap pemain-pemain muda, terutama yang berupa tindakan preventif agar tidak rentan cedera di masa depan. Misalnya dengan tidak memberikan porsi bermain penuh dan memperhatikan intensitas permainan pemain muda setiap pekan.

Porsi latihan juga butuh disesuaikan dengan perkembangan tubuh masing-masing pemain. Bagaimanapun lihainya seorang pemain di atas lapangan, jika dia masih remaja, masih ada perkembangan fisik yang belum sematang pemain dewasa. Meskipun kemampuannya di atas rata-rata, memberikan menit bermain berlebihan bukanlah keputusan yang bijak. Apalagi menurut penelitian yang telah dilakukan, pemain muda lebih banyak cedera saat latihan. Tentunya jadwal pertandingan yang padat menuntut latihan yang padat pula.

Selain klub, federasi juga punya peran menuntaskan masalah ini. Terutama dengan mengonsep kompetisi berjenjang usia yang akan memberikan jam terbang untuk anak-anak muda sesuai porsi umurnya. Di samping menjadi ajang pembinaan generasi selanjutnya, adanya kompetisi kelompok usia yang sehat merupakan kesempatan pemain muda dapat terus mengasah bakat mereka secara kompetitif dalam atmosfer pertandingan.

Kesempatan bermain pesepakbola muda di Indonesia baru terakomodasi regulasi PSSI mewajibkan klub Liga 1 menurunkan pemain U-23 tiap pertandingan. Sekilas aturan tersebut tampak membantu pemain muda mendapat menit bermain, yang memang benar. Sayangnya satu poin aturan itu saja tidak cukup. Kewajiban memang dilaksanakan klub. Namun pada akhirnya hanya sebagai formalitas dan kepatuhan yang secara kualitas tidak mencapai tujuan.

Memberikan kesempatan pemain muda bukan semata menambah statistik menit bermain. Ada kompetensi-kompetensi yang memang perlu dilatih supaya tercapai. Tidak semua pemain mencapai level senior sejak belia. Dengan tujuan itulah maka diadakan pertandingan kelompok usia, yaitu mengasah potensi dan pembinaan bertahap.



[ad_2]

Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *