Messi Tidak Datang, Teriakan Buruh Tetap Lantang

FI DEWI W PANARUB


Lionel Messi memang tidak datang ke Indonesia untuk membela Argentina menghadapi Garuda pada Senin (19/6/2023) di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Namun, tentu saja nama La Pulga tidak diabaikan begitu saja.

Banyak sekali penonton yang mengenakan jersei Argentina dengan nama punggung Messi. Penonton yang berada di dalam stadion pun meneriakkan namanya beberapa kali. Bagi Dewi Wulandari, Messi bukan sekadar nama yang dinantikan dalam pertandingan yang berkesudahan 0-2 bagi keunggulan La Albiceleste itu.

Dewi merupakan buruh di PT Panarub. Ia datang bersama 12 anggota GSBI lain ke GBK untuk melakukan aksi menuntut pembayaran upah mereka oleh PT Panarub yang dipotong pada Juni-Juli dan Agustus-September 2020 lalu ketika terjadi pandemi Covid-19.

Ia datang dengan membawa poster wajah Messi disertai tulisan `MESSI HELP US!!! TALK TO ADIDAS TO PAY OUR WAGES.`

Messi adalah brand ambasador Adidas, sedangkan PT Panarub merupakan salah satu mitra Adidas untuk memproduksi sepatu di Indonesia. Dewi bekerja di perusahaan yang berada di Tangerang itu sejak 2010. Saat ini ia menjabat sebagai sekretaris Sperbupas atau Serikat Buruh Pabrik Sepatu PT Panarub.

Aksi membawa poster protes dengan gambar Messi di GBK ini merupakan lanjutan dari protes yang dilakukan sejak pemotongan upah. Pada pembukaan Piala Dunia 2022 lalu, Sperbupas-GSBI (Gerakan Serikat Buruh Indonesia) melakukan protes serupa di Bundaran HI, Jakarta.

“Kita ketemu momen seperti ini (Indonesia vs Argentina) kita jadikan satu acara yang nggak bisa kita lewatin. Meskipun memang sulit banget buat dapet tiketnya dan agak sulit terjangkau juga harganya, tapi dengan usaha yang kita sama-sama saling bahu membahu ya (akhirnya) terlaksana karena demi perjuangan kita,” kata perempuan asal Maospati, Magetan itu kepada Panditfootball (20/6/2023).

Dewi merasa senang saat Argentina datang ke Indonesia karena ia bisa membawa kampanye perjuangan bersama rekan-rekannya sekaligus senang bahwa Indonesia bisa melawan negara juara Piala Dunia 2022 itu.

Namun, Dewi dan kawan-kawannya di PT Panarub tidak hanya melakukan aksi ketika ada sebuah momen besar.

“Kalau melakukan aksi tidak hanya pada momen-momen tertentu. Kita memang tiap hari melakukan aksi, baik di media maupun aksi piket,” katanya.

Tapi, lanjut Dewi, kala ada momen akan mereka pakai untuk menyuarakan protesnya kalau bisa mereka jangkau.

Aksi Dewi di GBK pun mendapat dukungan dari suporter yang hadir meskipun tidak terlalu banyak. Mereka berfoto dengan poster yang dibawa oleh Dewi.

Ia mengaku senang dengan respon penonton yang mau mendukung aksinya meski tidak memungkiri ada penonton yang tidak mau untuk dimintai berfoto bersama poster itu.

Sementara itu, Ketua Sperbupas-GSBI PT Panarub Sari Idayani mengatakan bahwa aksi itu lebih ditekankan kepada Adidas, karena merekalah yang menangguk keuntungan paling banyak dari keringat-keringat yang dikeluarkan oleh buruh di PT Panarub.

“Kami memanfaatkan momen itu (Indonesia vs Argentina) untuk mengampanyekan, mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk mendukung kampanye ini dan berharap siapapun yang melihat mau ambil bagian mendukung, karena apa yang kami suarakan bukan hanya untuk kawan-kawan buruh Panarub saja, tapi saat itu kan banyak juga pemotongan upah, PHK, bukan hanya brand Adidas, Nike,” terang Sari kepada Panditfootball, Selasa (20/6/2023).

Aksi di GBK itu tidak memungkiri memancing komentar netizen yang mengandung paradoks, mengapa bisa membeli tiket ketika upah belum dibayarkan?

Menanggapi hal itu, Sari berkata bahwa orang-orang tidak tahu bagaimana para buruh itu mencari uang agar ada perwakilan yang bisa masuk ke dalam stadion untuk memanfaatkan momen agar banyak orang yang bisa melihat di media sosial atau melihat aksi itu.

“Daripada buat nonton mending buat beli beras. Tapi karena memang kampanye jadi mau nggak mau ada pengorbanan terlepas hasilnya seperti apa ya setidaknya kami sebagai serikat buruh yang punya tanggung jawab moril (upah) anggota kami dipotong, kawan-kawan di luar anggota dipotong, ya memang harus ada pengorbanan yang harus dilakukan,” katanya.

Duduk Perkara Konflik Upah Buruh di PT Panarub


Sekretaris Jenderal GSBI Emelia Yanti Siahaan menegaskan bahwa aksi yang dilakukan Dewi di GBK merupakan aksi lanjutan dari aksi yang sudah dilakukan sebelumnya untuk merespon konflik antara buruh dengan PT Panarub.

Pada 2020, PT Panarub memotong upah buruh sebanyak dua kali, yakni pada Juni-Juli dan Agustus-September. Emelia mengatakan bahwa rata-rata buruh PT Panarub kehilangan upahnya sebanyak Rp800.000 hingga Rp1.300.000 pada dua periode tersebut.

Dalam wawancaranya dengan Panditfootball setelah melakukan aksi di Bundaran HI pada pembukaan Piala Dunia November 2022, Emelia mengatakan bahwa produksi PT Panarub berlangsung normal dan perusahaan itu kembali dipercaya untuk memproduksi sepatu untuk Piala Dunia.

Dengan dasar itu, mereka menuntut perusahaan mengembalikan upah mereka yang dipotong di tahun 2020. Mereka sudah mengkomunikasikan hal itu dengan pihak perusahaan. Tapi perusahaan berdalih bahwa itu pandemi dan banyak perusahaan melakukan hal yang sama.

Pada 2020, PT Panarub tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawannya. PHK kepada 400 buruh baru terjadi pada 18 November 2022, dengan alasan berkurangnya pesanan jumlah sepatu dari Adidas.

Merespon PHK tersebut, pada 22 November para buruh melakukan audiensi dengan PT Panarub. Aksi itu membuat PT Panarub berhenti mem-PHK buruhnya.

“Dari bersurat, berkirim email kepada pihak Adidas itu tidak ada balasan dan respon. Jadi memang klaim sepihak perusahaan saja tentang merugi dan karena penurunan order,” kata Emelia kepada Panditfootball (20/6/2023).

Saat ini, menurut Emelia, meskipun PT Panarub melakukan PHK dengan berbagai macam skema, kerja overtime tetap diberlakukan.

“Bahkan pada saat bulan April (2023) lalu sebelum libur lebaran, itu ada buruh yang dua minggu berturut-turut bekerja shift malam dengan overtime selama bulan puasa juga berlangsung meski satu dua jam, tetapi setiap hari ada overtime,” lanjut Emelia.

Menurutnya, ini kontradiktif dengan alasan penurunan order, perusahaan mengalami kesulitan keuangan selama masa pandemi, atau terkena dampak dari perang Rusia-Ukraina.

Dengan kampanye Dewi di GBK dan aksi yang lain, ia berharap Adidas mau berbicara.

“Jangan hanya mengambil keuntungan saja dari tenaga buruh tapi ketika perusahaan mengalami kesulitan dalam soal produksi, dalam soal pasar, kaitannya dengan situasi global, itu Adidas diem aja enggak melakukan sesuatu padahal ada buruh yang sudah bekerja selama belasan tahun,” tutup Emelia.

Merespon PHK yang terjadi pada bulan Mei 2023, Direktur Utama PT Panarub Budiarto Tjandra mengatakan bahwa situasi global yang kurang baik menjadi penyebabnya.

“Jadi kalau untuk situasi global saat ini masih kurang baik, kurang bagus untuk industri alas kaki. Karena kan industri alas kaki kita itu mayoritas ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Jadi kita tahu kondisi ekonomi di AS dan Eropa juga belum pulih. Jadi terdampak dari sana,” kata Budiarto dilansir dari CNBC.

“Kebanyakan industri alas kaki di Indonesia ini kan sifatnya menerima pesanan dari buyer. Nah buyer itu kan masih banyak inventory di negara tujuan ekspor kita, sehingga mereka mengurangi ordernya. Karena masih banyak inventory di sana, jadi ordernya gak terlalu banyak. Akibatnya, demand atau permintaan kepada pabrik-pabrik yang di Indonesia ini berkurang,” lanjutnya.

***

Kami meminta tanggapan dari PT Panarub terkait aksi protes Dewi Wulandari di GBK dan PHK yang mereka lakukan. Tapi tidak ada jawaban hingga berita ini tayang.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *