News of A Kidnapping: Diculiknya Orang Tua Luis Diaz dan Kenapa Kolombia Lekat dengan Penculikan

FI LUIS DIAZ


Ibu dan ayah pemain Liverpool asal Kolombia, Luis Diaz, diculik pada Sabtu (29/10) waktu Kolombia. Sang ibu, Cilenis Marulanda, diselamatkan di Barancas, sementara sang ayah, Luis Manuel Diaz, masih belum ditemukan hingga Selasa (31/10).

Bacaan Lainnya

Orang tua Diaz diculik segerombolan pengendara motor yang bersenjata. Setelah penculikan ini, Diaz pun absen saat Liverpool menghadapi Nottingham Forest (29/10). Di laga tersebut, Diogo Jota membentangkan jersei milik Diaz setelah mencetak gol kedua bagi The Reds pada menit 31`.

Sementara itu, Liverpool dalam pernyataan resminya berharap masalah ini diselesaikan dengan aman dan sesegera mungkin, dan mereka memprioritaskan kesejahteraan pemain. Sejauh ini, Diaz belum memberikan pernyataan terkait penculikan kepada kedua orang tuanya tersebut.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak keamanan Kolombia terkait siapa dalang di balik penculikan orang tua Diaz. Pihak tentara dan kepolisian pun masih melakukan upaya untuk menyelamatkan ayah Diaz.

Menurut laporan BBC, lebih dari 120 tentara, juga ditambah personil polisi, mencari ayah Diaz yang bernama ke arah Kolombia utara.

Jenderal William Rene Salamaca, direktur kepolisian nasional Kolombia, mengumumkan akan memberikan uang sekitar 40.000 Paun bagi siapa saja yang memberikan informasi keberadaan ayah Diaz.

Lekatnya Kolombia dengan Penculikan

Sergio Guzman, direktur analisis risiko Kolombia, menduga bahwa penculikan orang tua Diaz adalah penculikan dengan pemerasan.

“Saya berasumsi bahwa ini adalah penculikan dengan pemerasan, yang belum tentu merupakan hal yang tidak lazim, karena Luis Díaz tidak memiliki koneksi politik atau pemain penting dalam politik, begitu pula orang tuanya. Tetapi, ketenarannya dan kekayaannya mungkin menjadi penyebab penyanderaan semacam itu,” kata Guzman dilansir dari The New York Times.

Di sisi lain, menurut Vanessa Buschschluter, editor BBC untuk wilayah Amerika Latin dan Karibia, menjelaskan jumlah penculikan di Kolombia sejak 2000 sebenarnya menurun drastis. Di tahun tersebut 3.500 orang ditangkap kelompok gerilya atau kelompok kriminal.

Namun, angka penculikan meningkat di tahun 2023 ini. Pada 2022, hingga bulan Juni, ada 77 orang yang diculik, sementara di tahun ini dengan bulan yang sama sudah terjadi 161 penculikan.

Kolombia utara di perbatasan Venezuela adalah salah satu daerah yang paling parah dalam kasus penculikan serta perdagangan manusia untuk berupaya mendapatkan uang dengan cepat. Kelompok kriminal menyasar orang-orang kaya dengan tujuan pemerasan.

Sementara itu, profesor Universitas del Norte, Luis Trejos, mengatakan peningkatan penculikan ini ada kaitannya dengan dihentikannya pengolahan daun koka.


“Perdagangan narkoba adalah sebuah rantai yang terdiri dari beberapa mata rantai… semua orang mendapat manfaat darinya. Ketika penanaman dan pengolahan koka dihentikan, berbagai pihak kehilangan pendapatan. Hal ini menyebabkan banyak organisasi kriminal – yang sebagian besar pendapatannya berasal dari perdagangan narkoba – melakukan penculikan,” terang Trejos dikutip dari El Pais.

Kolombia mempunyai sejarah panjang perlawanan terhadap pemberontak. Salah satu perlawanan yang paling panjang adalah terhadap pemberontak Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia atau FARC. Kelompok yang berdiri pada 1964 itu terus melakukan perlawanan dan baru berdamai dengan pemerintah Kolombia pada 2016.

Di era 1970-an, FARC melancarkan aksi penculikan untuk mendapatkan uang guna membiayai eksistensi kelompok mereka. Selama FARC berkonflik dengan pemerintah Kolombia, diperkirakan lebih dari 200.000 jiwa tewas dan 100.000 jiwa hilang.

Bukan hanya warga sipil saja yang diculik, melainkan juga pejabat-pejabat besar. Pada 2002, tiga politisi Kolombia yakni Clara Rojas, Cobsuelo Gonzalez, dan Ingrid Betancourt diculik dan baru dibebaskan pada 2007. Bahkan pada 5 Mei 2017, seorang pejabat PBB asal Kolombia bernama Arley Lopez diculik oleh kelompok FARC yang menolak perdamaian.

Selain FARC, ada juga pemberontak Ejercito de Liberacion Nacional (ELN), sebuah kelompok yang menganut ideologi Marxisme dan Katolik Progresif. Saat ini, kelompok ELN masih beroperasi dengan di wilayah Kolombia utara.

Menurut laporan Insight Crime, pada Mei lalu, ELN menculik seorang polisi di daerah Cauca. ELN juga menculik lima pegawai pemerintah kota Bolivar pada Juni. Seorang sersan tentara dan dua anaknya juga diculik di Arauca pada 3 Juli silam. Tak berselang lama, ELN menculik 19 karyawan perusahaan konstruksi di Norte de Santander meski langsung dibebaskan.

Pada 6 Juli, ELN dan pemerintah Kolombia sudah bersepakat untuk menghentikan operasi satu sama lain. Namun, masih menurut Insight Crime, para gerilyawan tidak berkomitmen untuk mengakhiri kegiatan kriminal mereka yang berdampak pada warga sipil, termasuk pemerasan dan penculikan, yang merupakan sumber pendapatan penting bagi mereka.

***

Berita penculikan di Kolombia akhir-akhir ini menjadi berita yang rutin terdengar dan menjadi semacam lanjutan dari sejarah panjang Kolombia yang penuh dengan pembunuhan dan penculikan.

Jurnalis sekaligus sastrawan terbesar Kolombia, Gabriel Garcia Marquez, pernah menulis buku yang judulnya sangat relevan dengan kondisi Kolombia akhir-akhir ini: Noticia de un secuestro atau news of a kidnapping.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *