Piala Asia: Ajang Evaluasi Shin Tae-yong

FI EVALUASI STY YAZID


Menjelang penampilan di Piala Asia 2023, pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong (STY), sedang mempersiapkan tim secara menyeluruh. Upayanya melibatkan berbagai aspek, mulai dari aktivitas program naturalisasi, pemusatan latihan di Turki, hingga penyelenggaraan pertandingan uji coba. Persiapannya juga dilakukan dengan penuh dedikasi, mengingat bahwa Piala Asia mendatang akan menjadi momen penting sebagai evaluasi bagi dirinya.

Bacaan Lainnya

Perjalanan skuad Garuda di Piala Asia tampaknya akan menjadi panggung evaluasi kinerja STY setelah empat tahun melatih. Meskipun demikian, berdasarkan pernyataan Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang disampaikannya pada bulan Oktober sebelumnya, kontrak STY sebenarnya telah berakhir pada akhir tahun 2023. Namun berkat keberhasilannya membawa timnas mencapai Piala Asia, kontraknya diperpanjang hingga Juni 2024 dan bisa kembali diperpanjang jika berhasil mencapai target.

“Pembicaraan saya (tentang kontrak) dengan Shin Tae-yong sampai Juni 2024. Penilaiannya nanti apakah perpanjangan lebih panjang sesuai dengan prestasi di Piala Asia, baik senior maupun U-23,” kata Erick Thohir dilansir dari Detik, (10/10/2023).

Dengan kontraknya yang berakhir pada bulan Juni mendatang, Piala Asia senior bukan satu-satunya penilaian untuk masa depan pelatih asal Korea Selatan ini, melainkan juga ajang Piala Asia U-23 yang dijadwalkan pada bulan April. Perpanjangan kontrak STY akan ditentukan oleh pencapaian prestasi kedua tim dalam kedua turnamen tersebut. Apakah terdapat target khusus dari federasi untuk STY dan timnya di Piala Asia mendatang?

Bicara soal target, STY dan PSSI sudah sepakat mematok target bagi timnas di Piala Asia yaitu untuk lolos ke babak gugur. Target yang tampak ambisius namun tetap realistis mengingat ini adalah Piala Asia pertama setelah terakhir berpartisipasi pada 2007 (itupun lolos otomatis sebagai tuan rumah).

“Persiapan kita targetnya 16 besar. Untuk itu saya dan seluruh pemain akan berusaha maksimal dan berjuang keras,” kata Shin Tae-yong via rilis resmi PSSI (20/12/2023).

Hal tersebut diamini Wakil Ketua Umum PSSI, Zainudin Amali yang mengatakan bahwa federasi tetap realistis dengan mengusung target lolos 16 besar Piala Asia.

“Tentu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Coach Shin Tae-yong, dia menargetkan untuk kita lolos ke 16 besar. Itu yang kita harapkan. Federasi tentu harus realistis,” ucap Zainudin Amali, dilansir dari laman resmi PSSI (25/12/2023).

Masuk akal jika STY akan dievaluasi apabila tidak mencapai target yang ditetapkan. Sebagai pelatih, STY memiliki tanggung jawab utama terhadap kinerja tim, dan diketahui bahwa dia menerima gaji yang signifikan untuk melatih skuad Garuda. Meskipun tidak ada rincian spesifik, laporan dari media Vietnam, Dan Viet, menyebutkan bahwa gaji STY mencapai dua kali lipat dari bayarannya ketika melatih timnas Korea Selatan di Piala Dunia, yang mencapai 7 miliar rupiah. Dengan demikian, STY diakui sebagai salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di Asia Tenggara.

Meskipun gajinya terhitung tinggi, hal ini tampaknya wajar mengingat berbagai pencapaian yang telah diraih STY selama empat tahun memimpin skuad Garuda. Selain melatih timnas senior, STY sering kali mengambil tanggung jawab ganda dengan membimbing timnas kategori usia, terutama pada awal masa kepemimpinannya. Alhasil kontribusinya menangani berbagai posisi ini dianggap sebanding dengan kesuksesan yang telah ia raih.

Selama empat tahun menangani skuad Garuda, pencapaian STY cukup mengesankan terutama ketika ia melakukan peremajaan skuad. Ini tercermin dari fakta bahwa Indonesia menjadi negara dengan rata-rata usia pemain termuda di Piala Asia 2023. Jika ditanya, apa manfaat dari peremajaan generasi dalam komposisi timnas? Jawabannya sederhana, yaitu dengan melakukan peremajaan generasi, STY berusaha membentuk dasar yang solid untuk masa depan yang cerah bagi timnas Indonesia. Sebab, jika suatu saat ia tidak lagi menangani tim, fondasi yang telah dibangunnya dapat diteruskan oleh pelatih penerusnya.

Sejak kedatangannya pada tahun 2019, STY telah mencapai kemajuan yang signifikan di timnas Indonesia. Progres yang terus ditunjukkan oleh skuad yang diarsitekinya telah mendapatkan respons positif dan dukungan luas, termasuk dari para legenda sepakbola seperti Kurniawan Dwi Yulianto dan Bambang Pamungkas.

“Ya, hal yang positif (uji coba vs Curacao) saya melihat karakter pemain mulai kelihatan. Etos kerjanya itu yang ada dan kami harapkan. Secara permainan terus meningkat dan saya rasa Coach (STY) bisa memaksimalkan potensi yang ada. Harapan saya banyak uji coba yang bukan lagi lawan yang levelnya seimbang. Sebab ini berpengaruh pada mentalitas pemain, terus karakter, dan juga cara bermain mereka,” kata Kurniawan dilansir dari Kompas.com (01/10/22).

Sedangkan Bepe dalam podcast bersama Sport 77 mengatakan bahwa menggantikan STY bukan solusi tepat. Menurutnya, meski masih gagal di level regional (Asia Tenggara), di bawah asuhan STY, timnas sudah berkembang ke arah yang benar.


“Walaupun memang di event-event level regional kita masih gagal. Namun, jika kita melihat gambaran yang lebih besar, menurut saya, Timnas Indonesia ini prosesnya sudah benar. Makanya saya khawatir kalau ada suara-suara yang mengatakan bahwa Shin Tae-yong diganti saja. Jujur saja saya khawatir, karena pengalaman saya mengatakan bahwa itu bukan solusi yang tepat,” kata Bepe dikutip dari podcast bersama kanal YouTube Sport 77.

Meski gagal di level regional, tak bisa dipungkiri bahwa STY berhasil membawa timnas berprogres dengan baik. Puncaknya adalah saat ia berhasil mengantar timnas di berbagai kategori usia untuk tampil di Piala Asia lewat jalur kualifikasi, bukan tuan rumah.

Selain itu, perkembangan timnas juga tidak terlepas dari program naturalisasi yang terkoordinasi dengan baik oleh STY. Meskipun bukan kali pertama program naturalisasi digelar untuk meningkatkan kualitas timnas, namun program naturalisasi yang dikelola oleh STY kali ini terbukti berhasil dan terarah. Tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah pemain, program naturalisasi saat ini juga memberikan perhatian yang cukup pada peningkatan kualitas, berbeda dengan pengalaman buruk naturalisasi pada tahun 2012 yang tidak menghasilkan capaian yang memuaskan.

Namun, perlu diakui bahwa program naturalisasi yang disusun oleh STY sebenarnya dapat diartikan sebagai upaya strategis jangka pendeknya untuk meningkatkan kualitas timnas. Hal ini mencerminkan kekurangan dalam pengembangan sepakbola Indonesia yang coba diatasi oleh STY dengan mencari solusi melalui program naturalisasi, sebagai cara untuk meraih prestasi yang diinginkan.

Kemudian tak bisa dipungkiri pula setelah 4 tahun melatih, STY menorehkan beberapa catatan minor yang cukup mengecewakan. Seperti gagal jadi juara dalam beberapa edisi Piala AFF (2020 dan 2022), gagal meraih emas dalam Sea Games 2021, dan gugur di fase grup Piala Asia U-20.

Sulit untuk mengabaikan kekecewaan atas ketidakmampuan meraih gelar di tingkat kompetisi Asia Tenggara. Sederhananya, bagaimana mungkin kita bisa bersaing di level Asia yang lebih tinggi jika belum mampu dominan di kawasan Asia Tenggara? Hal ini diiringi dengan munculnya pandangan bahwa ‘siapapun bisa kita kalahkan kecuali Tuhan dan Thailand’.

Melihat perkembangan positif yang ditunjukkan oleh timnas di bawah kepemimpinan STY, wajar saja jika menimbulkan optimisme untuk memuaskan keinginan para pendukung yang berharap melihat timnas meraih trofi. Apalagi, STY dinilai mendapatkan keistimewaan yang tak didapat pelatih sebelumnya dalam mengelola timnas.

Keistimewaan yang dimaksud berupa kepercayaan suporter yang telah muak dengan kegagalan timnas di era-era sebelumnya. Mengapa mendapatkan dukungan suporter bisa dibilang sebagai keistimewaan? Karena mendapatkan dukungan suporter Indonesia adalah hal yang luar biasa sulitnya, mengingat tak sedikit yang menganggap bahwa keberhasilan itu berorientasi pada trofi atau piala.

Beruntungnya STY hadir setelah keberhasilan Luis Milla dalam memberikan warna untuk permainan Garuda dan membuka mata banyak suporter Indonesia untuk mempercayai proses. Semua pasti masih ingat bagaimana timnas asuhan Milla saat itu sukses mencuri hati kita semua tatkala menampilkan permainan atraktif dan semangat juang tinggi saat tampil di Asian Games 2018.

Sayangnya, PSSI dengan tegas menyatakan bahwa Milla gagal memenuhi target di dua tahun kepelatihannya. Ia gagal membawa timnas juara di Sea Games 2017 dan gagal melangkah hingga semifinal di Asian Games 2018 yang akhirnya membuat PSSI tak melanjutkan kerja samanya bersama Milla. Meskipun timnas di bawah asuhan Milla menunjukkan kemajuan yang signifikan, terlepas dari keterbatasannya.

Setelah kepergiannya, Indonesia mengalami kegagalan yang mencolok di dua turnamen berikutnya: Piala AFF 2018 dengan pelatih Bima Sakti dan Kualifikasi Piala Dunia 2022 bersama Simon McMenemy. Oleh karena itu, keputusan PSSI untuk memberhentikan Milla dianggap sebagai kesalahan besar.

Sehingga, PSSI kali ini tentu harus lebih bijak dan sadar diri dalam melakukan evaluasi terhadap masa depan STY. Meskipun tidak berhasil meraih gelar, STY nyatanya telah mampu membawa timnas bermain di ajang Piala Asia, bahkan di tengah ketidakjelasan dalam struktur kompetisi dan pembinaan sepakbola. Pada akhirnya bukan hanya STY yang harus dievaluasi, tapi PSSI itu sendiri. Karena jika PSSI mampu memberikan peta jalan (roadmap) yang jelas, siapapun pelatih timnas ‘nanti’ akan merasakan kemudahan karena jika PSSI punya progres yang jelas untuk perkembangan sepak bola Indonesia, pelatih timnas akan punya target yang terukur.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *