Rekayasa Karir ala Gregoire Akcelrod

PESEPAKBOLA PENIPU


Gregoire Akcelrod lahir di Saint-Germain, pinggiran kota Paris dan tumbuh sebagai suporter garis keras Paris Saint-Germain. Akcelrod kecil mengidolakan Zinedine Zidane dan George Weah. Dia bermimpi sebagaimana cita-cita seorang anak yang gemar bermain bola setiap hari sepulang sekolah: menjadi pesepakbola profesional.

Bacaan Lainnya

Kalau bisa dibilang karir, maka Akcelrod memulainya dari usia belia. Sejak usia lima tahun, dia sudah menimba ilmu di akademi FC Sens, sampai dengan usia sebelas tahun. Kecintaannya pada sepakbola amat besar hingga dia rela “mengusahakan” jalan meraih mimpinya.

Namun nama Akcelrod tidak masyhur seperti sang idola, Zidane, dengan prestasi mentereng atau Didier Deschamp yang angkat trofi piala dunia sebagai pemain dan pelatih. Nama Akcelrod justru terkenang karena handal memanipulasi citranya. Merekayasa hingga jadi realita.

Semua bermula ketika sang ayah menonton Akcelrod unjuk kebolehan di atas lapangan untuk pertama kali, yang ternyata tidak ada boleh-bolehnya. Dengan kata lain, permainan Akcelrod sangat buruk. Ayahnya pun melarang Akcelrod bermain sepakbola.

Kepada SPORTbible, Akcelrod menceritakan kisahnya. “Dia (ayah) bilang, `Permainan bolamu jelek, aku tidak mau kamu bermain (bola) lagi.` Perkataan ayah menjadi pukulan buatku. Segalanya hancur saat dia bilang begitu. Kukatakan pada diri sendiri, suatu hari dia akan tahu dia salah dan aku akan menjadi pesepakbola profesional.” tuturnya dalam wawancara eksklusif oleh Josh Lawless dari SPORTbible di awal tahun ini (5/2).

Membuat Laman Palsu dan Memelintir Berita

Ketika usianya 16 tahun, Akcelrod yang berstatus murid di sekolah swasta mendapat ilham untuk memuluskan langkahnya ke klub profesional. Dia memanfaatkan fasilitas ruang komputer untuk membuat sebuah laman palsu seolah-olah itu milik seorang pemain sungguhan.

Dia lalu mengisinya dengan mengutak-atik informasi dari internet yang sebenarnya tentang Ronaldo Nazario dan mengganti nama peraih Ballon d`Or dua kali itu dengan namanya.

Tidak hanya itu, dia juga mengunggah reportase pertandingan dan menyelipkan namanya di daftar skuad, yang tadinya tertulis Nicolas Anelka. Dalam wawancara yang sama dengan SPORTbible, Akcelrod menuturkan bahwa dia menyunting headline sebuah artikel L’Equipe dari “Anelka akan pindah ke Real Madrid” menjadi “Akcelrod akan pindah ke Real Madrid”.

Beberapa tahun berselang, dia menambahkan video laga persahabatan lengkap dengan deskripsi, menambahkan namanya di daftar tim, dan menyertakan link yang berbunyi “Pertandingan Paris Saint-Germain” yang malah bermuara ke video di website palsu tersebut.

Akcelrod memperlihatkan laman itu kepada teman-temannya dan semua anak mengakui kelihaiannya. Mereka setuju buah tangan Akcelrod itu tampak asli. Berkat blog itu, Akcelrod pun kembali ke atas lapangan, bahkan sampai bisa bermain di luar Prancis.

Karir Sebagai Pemain Profesional

“Saya mulai bermain sepakbola lagi pada usia 17 tahun di Becon les Granits lalu pindah ke Racing Club de France. Kemudian pengalaman pertama saya di luar negeri adalah di klub Belgia, US Givry, klub lokal tempat saya belajar diet.” kenangnya, dilansir dari wawancara Soccermagazine.it tahun 2011 silam.

Tidak berhenti di negeri tetangga, Akcelrod berhasil sampai ke Divisi Pertama Wales dengan berseragam Cwbran Town selama satu musim 2005/2006 di usia 23 tahun. Musim berikutnya, Akcelrod bergabung dengan skuad amatir PSG saat menunggu pemulihan cedera.

“Tim profesional PSG bermain di Ligue 1. Lalu ada tim reserves dan ada pula klub amatirnya (bermain di Divisi Kelima). Bagiku rasanya fantastis bisa bermain bersama Paris Saint-Germain walaupun di divisi terburuk sepakbola Prancis. Saat kamu menjadi fans sebuah klub, dapat bermain untuk tim apapun di klub itu sudah membuatmu senang,” katanya kepada SPORTbible.

Mimpi Akcelrod sebenarnya tidak muluk-muluk. Tidak perlu menjadi George Weah atau bermain cantik bak Ronaldinho. Baginya menjadi pemain medioker pun cukup, asal cita-citanya mencapai level pro tergapai.

Tanpa restu ayahnya mimpi Akcelrod sempat terhenti. Usai cedera yang menepikannya ke level amatir, karir Akcelrod tersendat dan malah bermanuver ke restoran cepat saji, McDonald`s. Baginya yang dibesarkan di keluarga kaya raya, bekerja sebagai tukang masak awalnya lucu, namun lama-kelamaan membosankan karena harus bekerja keras. Akcelrod merasa orang-orang tidak menaruh hormat pada pekerjaan itu.

Suatu hari Akcelrod mengunjungi toko Parc des Princes, stadion markas PSG, untuk membeli sepatu baru. Wajah Akcelrod sangat lesu sampai mengundang tanya pramuniaga yang sekaligus adalah temannya.

“Dia bilang aku tampak depresi dan kukatakan aku tidak akan bisa bermain sepakbola profesional, jadi mimpiku sudah berakhir. Temanku bilang, `Bosku tidak sedang di sini. Aku punya kunci jadi kita bisa mengunjungi Parc de Princes.`

“Kejadian itu sama sekali tak terduga. Aku lalu mengaku mau membeli jersei untuk saudara laki-lakiku yang sebenarnya untukku dan mencetak namaku (Akcelrod). Kami mengunjungi Parc de Princes dan aku memintanya (temanku) mengambil fotoku, tapi aku bertujuan menggunakan foto itu di laman pribadiku,” ujar Akcelrod seperti dikutip dari SPORTbible.

Usai kejadian itu, Akcelrod memperoleh modal baru untuk nilai tambah dalam CV, meskipun sebagian informasi telah dia pelintir. Berbekal pengalaman di PSG dan isi laman pribadi, Akcelrod mulai mengirim surat ke beberapa klub untuk mengajukan trial. Saat itu dia mengaku berposisi penyerang, sementara posisi aslinya adalah gelandang bertahan.


Hampir Bermain di Liga Champions

Chelsea, Manchester City, dan Arsenal menolak lamaran Akcelrod. Meskipun demikian, Akcelrod tidak kecewa sebab surat balasan dari Arsenal menandakan lamarannya dibaca Arsene Wenger. Dia bahkan memajang surat itu dalam pigura yang digantung di dinding kamarnya.

Setelah penolakan dari klub-klub papan atas Liga Inggris, Akcelrod tetap tidak patah arang. Dia yakin divisi dua, tiga, atau bahkan empat ada yang bersedia memberikan kesempatan trial.

Harapan tiba ketika akhirnya panggilan sampai padanya. Akcelrod sempat trial bersama Norwich City, Bournemouth, dan Swindon Town di tanah Inggris. Dia juga menghabiskan waktu bersama klub Skotlandia, Dundee United, sampai ke klub Australia, Sydney FC, dan New York Red Bulls di Amerika Serikat, yang merupakan pengalamannya ikut tur dunia selama itu.

Tanggal 29 Juli 2007, Akcelrod muncul di liputan video Skysports usai laga persahabatan di kandang Swindon yang berakhir seri 1-1 melawan Reading. Mantan pegawai McDonald`s itu berhasil memukau suporter dan terpilih sebagai pemain favorit.

“Aku senang kalau fans (bisa) membawakan kontrak untukku. Tetapi aku harus tunggu manajer klub ditunjuk menjadi chairman,” kata Akcelrod sambil berkelakar dalam cuplikan video Skysports itu.

Sayangnya akhir trial di Swindon tidak menyenangkan. Pihak klub mengontak PSG meminta konfirmasi bahwa Akcelrod pernah menjadi bagian dari pemain profesional mereka. Kebohongan pun terbongkar dan langkah Akcelrod bersama The Robins cukup sampai di trial.

Dua tahun berselang, klub tersukses di Bulgaria, CSKA Sofia melirik Akcelrod. Di musim itu, CSKA berhak ikut kualifikasi Liga Champions Eropa. Mereka tertarik meminang pemain Prancis itu setelah melihatnya dalam tiga hari masa trial. The Reds menawarkan kontrak dengan gaji 15 ribu Euro atau sekitar Rp225 juta, dan memublikasikan Akcelrod sebagai rekrutan mereka di laman resmi.

Lagi-lagi masalah kepalsuan CV-nya diangkat dan memupuskan kesempatan Akcelrod bermain di Liga Champions. Kali ini berita itu sampai ke telinga jurnalis, usai seorang fans CSKA bertandang ke forum suporter PSG untuk menanyakan kiprah Akcelrod di sana. Begitu mengetahui bahwa Akcelrod tidak pernah bermain untuk tim utama PSG, fans CSKA itu mengontak sejumlah jurnalis.

Akcelrod merasa kecewa saat kontraknya dibatalkan lebih karena CSKA tidak mau didamprat media dengan tajuk “mengontak pemain palsu”, padahal mereka sudah menilai sendiri kemampuannya selama trial. Saat Akcelrod datang untuk latihan, klub pun menolaknya dan memintanya pulang ke Prancis.

“Semua tabloid Bulgaria mempertanyakan CSKA, yang menjanjikan nama besar kepada fans di bursa transfer, tapi merekrut pemain yang selalu memiliki kontrak amatir di PSG. Saya dipanggil manajemen dan diberitahu bahwa saya tidak lagi menjadi bagian klub.

“Ketika media Prancis mendatangi saya pada Maret 2010, saya menerima banyak tawaran wawancara di televisi, radio, dan surat kabar. Setelah semua keriuhan, saya membedakan dua jenis jurnalis, yang menyadari kisah nyata saya dan yang terus mengatakan kebohongan hanya untuk membuat media mereka terjual,” ujar Akcelrod, dilansir dari Soccermagazine.it (24/10/2011).

Setelah insiden pembatalan kontrak di CSKA Sofia, Akcelrod sempat kembali ke level profesional. Pada Januari 2011, dia dikontrak klub Kanada, Mississauga FC, selama tiga tahun dan berangkat ke Negeri Daun Maple dua bulan setelahnya.

Berdasarkan data di Transfermarkt Akcelrod membela Mississauga selama setahun penuh, istirahat panjang hingga 2021, dan mengakhiri karir sebagai pemain CF Amèrica di Meksiko dari 26 Agustus 2021 hingga 1 Juli 2022.

Manuver Menjadi Agen Pemain

Suatu hari seorang mantan pelatih meminta Akcelrod membantu talenta muda asal Kamerun. Akcelrod lalu berhasil mengantarkan anak itu diterima trial di Liverpool. Momen ini pun menjadi titik perubahan karirnya.

“Aku mendapat banyak permintaan dari anak-anak muda yang menginginkanku menjadi agen mereka. Itulah yang terjadi. Aku tidak pernah berkeinginan menjadi agen, tetapi karena pengalaman dan orang-orang yang pernah kutemui, aku pun memulai bisnis ini,” kata Akcelrod via SPORTbible.

Di akun Linkedin pribadinya, Akcelrod mencantumkan agensi yang dirintisnya mulai tahun 2014, One Soccer Agency, yang masih beroperasi hingga saat ini. Kliennya yang paling terkenal adalah Aurelien Tchouameni. Keduanya bertemu saat gelandang Real Madrid itu masih berusia 15 tahun di akademi Bordeaux. Akcelrod lalu membantunya mendapat kontrak di tim profesional.

“Sangat menarik ketika pemain dari level kecil di Prancis sampai ke level profesional dan ke (AS) Monaco. Pertama kali melihatnya, aku yakin dia akan menjadi (pemain) profesional. Kupikir dia punya gaya dan teknik bermain seperti Paul Pogba dan mungkin karirnya akan lebih dari Paul Pogba,” kata Akcelrod mengenai Tchouameni, dilansir dari SPORTbible.

Selain memiliki agensi sendiri, Akcelrod juga bekerja sebagai agen sepakbola di FIFA sejak November 2023, tepatnya berkantor di Andorra, sebuah negara yang berbatasan dengan Prancis dan Spanyol.

Pada akhirnya meskipun karir Akcelrod tidak mentereng, paling tidak dia telah membuktikan pada ayahnya bahwa dia bisa berkarir sebagai pemain profesional, dan bahkan meneruskan karir di sepakbola setelah pensiun.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *