Eritrea dan Kisah Pemain yang Kabur dari Negaranya 

[ad_1]

Piala Afrika 2023 di Pantai Gading telah dimulai, namun di tengah hiruk pikuknya persaingan dalam kompetisi, ada satu negara yang sudah absen dalam laga Internasional sejak tahun 2019 yaitu Eritrea. Negara kecil dari Afrika Timur ini tak ikut serta dalam Piala Afrika dan menyatakan mundur dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.

Bacaan Lainnya

Eritrea adalah sebuah negara yang berada di wilayah timur benua Afrika, berbatasan langsung dengan Laut Merah. Memiliki ibukota bernama Asmara, serta diapit oleh negara Sudan dan Ethiopia. Eritrea, dikenal sebagai Korea Utara-nya Afrika–begitu media Barat menyebutnya, merupakan negara tertutup yang mengisolasi dirinya dari dunia luar. Setelah merdeka dari Ethiopia pada 1993, Eritrea dipimpin oleh panglima pemberontakan mereka yaitu, Presiden Isaias Afwerki.

Meskipun awalnya ia menampilkan dirinya sebagai tokoh rakyat, Eritrea berevolusi menjadi negara otoriter di bawah pemerintahan Afwerki. Tanpa majelis nasional, tanpa konstitusi, atau sistem peradilan yang independen. Di bawah kepemimpinannya, Eritrea mewajibkan warganya, termasuk anak-anak, untuk melaksanakan wajib militer.

Sejak tahun 2003, siswa tahun terakhir sekolah menengah di negara Afrika Timur tersebut ‘terpaksa’ mengikuti pelatihan di kamp militer Sawa yang terpencil di dekat perbatasan Sudan. Para siswa mengalami perlakuan buruk, disiplin ala militer, hukuman fisik, dan kerja paksa. Tak ayal banyak siswa akhirnya dengan sengaja gagal naik kelas demi menunda keberangkatan wajib militernya. Saking suramnya, beberapa siswa bahkan mengatakan tak ada masa depan di sana (kamp militer).

“Saya tidak bisa melihat masa depan di sana. Saya kehilangan semua harapan. Mereka menjadikan kami budak, bukan mendidik kami,” kata mantan siswa yang dirahasiakan namanya kepada kelompok hak asasi manusia via Al Jazeera.

Dikutip dari Al Jazeera, sebuah laporan yang dirilis Human Right Watch (HRW) mengatakan: “Kejahatan perbudakan, pemenjaraan, penghilangan paksa, penyiksaan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya telah dilakukan sebagai bagian dari kampanye untuk menanamkan rasa takut, menghalangi perlawanan, dan pada akhirnya mengendalikan penduduk sipil Eritrea.”

Inilah yang akhirnya mendorong banyak penduduk Eritrea untuk meninggalkan negara mereka dan melarikan diri ke negara lain. Karena mereka percaya itu merupakan satu-satunya cara untuk menghindari keputusasaan di Eritrea, meskipun risiko nyawa mereka sangat besar. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB, hampir 40.000 warga Eritrea mencoba menyeberangi Laut Mediterania untuk mencapai Eropa pada tahun 2014.

Para pemain sepakbola tidak luput dari fenomena ini. Menurut salah satu pendiri televisi ERISAT di Eritrea, Saba Tesfayohannes, berpendapat bahwa dengan melakoni partai tandang, para pemain timnas mendapatkan opsi termudah untuk kabur dari Eritrea yang sempat memberlakukan tembak mati untuk pengungsi yang melarikan diri.

“(Desersi saat bertandang) membuat mereka tidak perlu melintasi perbatasan yang berisiko. Bagi atlet profesional, hengkang adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk mendapatkan keselamatan yang tidak diberikan oleh negara mereka.” kata Saba via Al Jazeera.

Sejak 2007, dilansir dari The Athletic, sudah ada 80 pemain sepakbola yang mayoritas anggota timnas sepakbola putra telah melakukan desersi. Mereka mendapatkan sedikit kesempatan tatkala harus bertandang ke luar negeri. Inilah yang akhirnya menjadi alasan Eritrea tak melakoni laga Internasional. Ketakutan akan ditinggal pergi pemainnya yang mencari suaka di luar negeri.

Obsesi untuk Melarikan Diri

Meski sudah lama dan telah jauh meninggalkan Eritrea, David (bukan nama sebenarnya), masih larut dalam ketakutan. Ia merasa hidup dalam kehati-hatian. Gerak-geriknya terasa diawasi oleh agen-agen pemerintahan Eritrea. David, menjadi salah satu dari 80 pemain yang dikabarkan kabur dari Eritrea sejak 2007. Sejak saat itu pula ia selalu ‘awas’ dalam bertindak. Tidurnya tak nyenyak, terkadang ia bermimpi diserbu banyak pasukan bersenjata untuk membawanya kembali ke Eritrea. Membuatnya harus selalu memastikan ada kursi yang ditempelkan di pintu saat ia tertidur.

“Kami melihat potensi mata-mata dan musuh di mana-mana,” kata David dikutip dari The Athletic. “Bisa di pos pemeriksaan perbatasan atau di kafe. Suatu hari, seorang pria menatapku dengan aneh, jadi aku pergi tanpa menyelesaikan sarapanku, dan naik taksi—meminta sopir untuk mengantarku ke alamat yang salah,” tutupnya.

Tingkat penindasan di dalam negeri semakin buruk dan dia pernah mendengar tentang penjara bawah tanah serta ruang penyiksaan yang dikenal sebagai pemanggang–karena kondisinya yang terik–adalah alasannya tak ingin kembali. Meskipun ada juga resiko berupa penahanan tanpa batas waktu jika tertangkap melakukan desersi.

Ini juga yang membuatnya merahasiakan identitasnya, dimana tempat tinggalnya, dan bersama siapa dia saat kabur, demi menjaga diri dan kebebasannya. Ia juga menyatakan bahwa penduduk Eritrea telah diarahkan untuk tidak memiliki kepercayaan terhadap jurnalis, karena di negara mereka tidak ada kebebasan pers. Siapapun yang berusaha menyampaikan kebenaran dianggap sebagai orang yang terjepit dalam penindasan.


Setelah semua penindasan, penganiayaan, dan penyelewengan kekuasaan yang dirasakannya selama 18 bulan di usia 15 tahun di kamp pelatihan Eritrea, mantan punggawa Unta Laut Merah ini melabeli dirinya sebagai ‘orang yang beruntung’ karena bisa kabur dan tak kembali ke negaranya. Pada malam saat dirinya membela Eritrea pada sebuah partai tandang, ia izin pergi untuk berbelanja oleh-oleh, namun akhirnya tak kembali.

Selain David, ada pula atlet yang hengkang dari Eritrea dengan memanfaatkan momen Olimpiade 2012, Weynay Ghebresilasie seorang atlet lari dari Eritrea juga melarikan diri ketika mendapat kesempatan untuk berkompetisi di luar negeri. Weynay menjelaskan bahwa minimnya hak asasi manusia di negaranya membuatnya berpikir untuk mencari suaka.

“Setelah Anda dipaksa masuk dinas militer, tidak ada cara untuk keluar dari kehidupan yang sangat sulit ini, selain jika Anda kehilangan anggota tubuh atau dinyatakan tidak sehat secara medis. Situasi ini memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang mungkin mengorbankan nyawa mereka, namun pada akhirnya terkadang tidak ada pilihan lain.” kata Ghebresilasie via The Guardian.

Naturalisasi dan Diaspora, sebagai Solusi Jangka Pendek Sepakbola Eritrea

Walaupun Eritrea menjalani isolasi mandiri, negara tersebut berusaha tampil sebagai entitas yang normal, dan salah satu cara yang mereka tempuh untuk menunjukkan citra positif kepada dunia adalah melalui partisipasi dalam kompetisi olahraga internasional. Atlet-atlet Eritrea, termasuk pelari, pengendara sepeda, dan pemain sepak bola, kadang-kadang diberi izin untuk berkompetisi di luar negeri.

Unta Laut Merah, julukan timnas sepakbola Eritrea, merupakan sumber kebanggaan nasional. Namun, satu hal yang memalukan bagi pemerintah adalah ketika anggota tim sepakbola nasional berulang kali memilih untuk membelot setelah pertandingan di luar negeri, seperti kasus Angola pada tahun 2007, Kenya pada tahun 2009, dan Uganda pada tahun 2012.

Kepergian para punggawa timnas Unta Laut Merah di setiap kesempatan partai tandang sejak 2007 tersebut, membuat sepakbola Eritrea akhirnya lumpuh. Terakhir kali sepakbola Eritrea menggelar laga Internasional adalah saat kalah di kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Namibia pada tahun 2019.

Saat ini Eritrea tak ikut serta dalam pagelaran Piala Afrika 2024 di Pantai Gading. Lalu pada bulan November Federasi Sepakbola Nasional Eritrea (ENFF) akhirnya menarik keanggotaannya melalui pernyataan singkat yang dikeluarkan oleh badan sepak bola dunia FIFA dan CAF, yang hanya menyatakan bahwa “semua pertandingan di Eritrea telah dibatalkan”.

“Ini kemudian menjadi insiden internasional,” kata David mantan pemain timnas Eritrea berkomentar tentang mundurnya Eritrea dari kualifikasi Piala Dunia via The Athletic. “Eritrea tidak ingin dunia membicarakan permasalahannya.” tutupnya.

Keputusan mengundurkan diri dari kualifikasi ini disinyalir sebagai salah satu upaya mengurangi desersi yang terjadi. Selain itu, ENFF sempat memikirkan solusi jangka pendek dengan mencari pemain naturalisasi dan keturunan. Pada 2018, Daniel Salomon, pemandu bakat dan pejabat federasi ENFF, berhasil mendatangkan gelandang MLS keturunan Swedia Mohammed Saeid dan Tedros Golgol Mebrahtu, mantan penyerang PSM Makassar.

“Merekrut pemain asing hanya membantu pengembangan dalam jangka pendek, terutama karena kami tidak bisa merekrut pemain terbaik yang ada, dan terkadang mengincar pemain amatir. Kami membutuhkan liga profesional di mana para pemain mendapatkan gaji yang wajar yang akan menghalangi mereka untuk melarikan diri,” katanya via Al Jazeera.

Namun Daniel akhirnya merasa tak sejalan dan merasa kecewa dengan pemerintah. Akhirnya mengakhiri kontrak dengan federasi untuk tinggal di luar negeri. Ia merasa tak ada yang mendukungnya dalam memajukan olahraga Eritrea dan juga merasa bahwa usahanya selama lebih dari satu dekade tak dihargai. Ia juga mengharapkan perubahan terhadap negaranya.

“Saya telah terlibat dengan federasi lokal dalam berbagai kapasitas selama lebih dari satu dekade,” katanya via Al Jazeera. “Saya melakukannya karena saya mencintai Eritrea. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak, karena kita memerlukan perubahan di negara ini terlebih dahulu,” tutupnya.



[ad_2]

Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *