Vietnam vs Indonesia : Modifikasi Bek Tengah, Indonesia Buat Serangan Vietnam Tak Berisi

WhatsApp Image 2024 01 20 at 2.41.56 PM


Kenangan buruk kembali terulang bagi Philippe Troussier setelah lagi-lagi harus kalah dari tim nasional Indonesia dengan skor tipis 0-1. Sebaliknya, gol semata wayang Asnawi Mangkualam (42’) memecahkan rekor buruk Shin Tae-yong kala bertemu Vietnam yang selalu berakhir dengan kekalahan. Hasil ini membawa Garuda ke peringkat ketiga klasemen sementara Grup D dengan catatan tiga poin di bawah Jepang yang unggul dari selisih gol. Di sisi lain, Vietnam terperosok ke dasar klasemen.

Bacaan Lainnya

Seperti biasa, Shin Tae-yong melakukan beberapa perubahan pada sebelas pertama yang diturunkan meski menggunakan formasi dasar yang sama yaitu 3-4-2-1. Elkan Baggott dan Rizky Ridho digantikan oleh Egy Maulana Vikri dan Sandy Walsh. Egy bermain di area sayap kiri berseberangan dengan Yakob Sayuri di sayap kanan. Sandy menempati posisi Ridho sementara posisi Baggott diisi oleh Justin Hubner membentuk tiga bek sejajar bersama Jordi Amat. Di tengah, Ivar Jenner berpasangan dengan Marselino Ferdinan.

Di kubu lawan, perubahan terjadi di lini depan. Nguyen Van Tung mengakuisisi posisi Pham Tuan Hai sebagai penyerang tengah. Akibatnya pemain dengan nomor punggun 10 tersebut sedikit digeser ke sayap kiri. Sang kapten, Do Hung Dung, duduk di bangku cadangan. Posisinya diisi oleh salah satu pemain senior yaitu Nguyen Quang Hai. Dalam formasi dasar 3-4-3, Phillipe Troussier tetap mempercayakan lini tengah kepada Nguyen Thai Son dan Nguyen Tuan Anh sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang.

VIETNAM VS INDONESIA Google Dokumen

Sebelas Pertama Vietnam dan Indonesia

(Sumber : Transfermrkt)

Intensitas pertandingan cukup tinggi sejak peluit pertama dibunyikan. Formasi dasar yang hampir serupa membuat pemain saling berhadapan secara natural (meskipun formasi dasar berubah dinamis sesuai situasi di lapangan). Kedua tim terlihat ingin mengambil inisiatif serangan dan mendominasi penguasaan bola. Indonesia dan Vietnam kompak menerapkan high pressing secara kolektif dengan melibatkan empat sampai lima pemain. Keduanya fokus menutup jalur umpan ke arah dua gelandang sekaligus menempel bek sayap yang naik ke garis tengah lapangan. Secara umum, Indonesia sedikit lebih berhasil dalam menetralisasi high press lawan sebab tiga bek tengah memiliki akurasi umpan jarak menengah yang lebih baik sehingga bola tetap progresif tanpa harus melalui pivot.

Tingginya intensitas juga berdampak pada meningkatnya potensi duel-duel keras. Tidak heran jika sepanjang pertandingan, wasit meniup peluit 32 kali untuk menandakan terjadinya pelanggaran. Sepanjang pertandingan, tercatat Indonesia melakukan 24 pelanggaran sementara Vietnam delapan pelanggaran. Di penghujung laga, Le Phamh Thanh Long diusir dari lapangan setelah mengoleksi dua kartu kuning.

Membaiknya Organisasi Pertahanan

Masalah terbesar pada laga melawan Irak adalah struktur pertahanan yang terlalu mudah terdisorganisasi. Tiga bek tengah yang dipasang pada laga tersebut cukup kerepotan menghadapi penyerang Irak yang bergerak sangat dinamis. Berulang kali salah satu dari mereka terpaksa meninggalkan posisinya untuk menjaga pergerakan penyerang Irak sehingga memunculkan ruang di pertahanan. Masalah tersebut terjadi berulang kali yang salah satunya berbuah gol.

Pada laga ini, organisasi pertahanan tampil lebih disiplin. Struktur pertahanan yang dibangun tetap pada posisi yang diharapkan sehingga lawan kesulitan menemukan ruang untuk dieksploitasi. Keberadanaan Ivar Jenner dan Marselino Ferdinan di depan garis pertahanan ternyata sangat membantu dalam meredam serangan lawan dari lini tengah. Alhasil pilihan arah serangan Vietnam jadi lebih terbatas. Mereka berulang kali mencoba menciptakan peluang dari sektor sayap namun Yakob Sayuri dan Egy Maulana Vikri rajin turun membantu pertahanan terutama ketika bek sayap lawan melakukan overlap.

PRESS1

Ilustrasi Mekanisme Pressing Menutup Jalur Umpan ke Gelandang

(Sumber : Tangkapan Layar Kanal Youtube AFC Asian Cup)


Ide bertahan Shin Tae-yong adalah membatasi aliran bola ke arah pivot dengan high pressing sekaligus mempersempit ruang permainan dengan garis pertahanan tinggi. Pada ilustrasi di atas menunjukan mekanisme pressing yang menutup jalur umpan ke gelandang. Struick berperan sebagai presser utama untuk sementara empat hingga lima pemain di belakangnya menutup jalur umpan ke arah gelandang. Terlihat satu gelandang Vietnam dijaga oleh dua pemain Indonesia. Hal ini bertujuan agar Vietnam kesulitan membangun serangan sekaligus mengarahkan mereka agar menyerang lewat sayap.

DEFF

Ilustrasi Struktur Pertahanan Indonesia

(Sumber : Tangkapan Layar Kanal Youtube AFC Asian Cup)

Namun pada momen-momen tertentu Vietnam berhasil keluar dari tekanan dan perlahan memasuki area pertahanan Indonesia. Pada situasi ini, Indonesia tetap mempertahankan garis pertahanan tinggi dengan struktur 5-4-1. Jordi Amat “memegang” penyerang tengah sementara Sandy dan Hubner cenderung menjaga ruang. Empat pemain di area tengah cenderung merapat dengan tujuan mencegah Vietnam mengalirkan bola ke Nguyen Quang Hai atau Pham Tuan Hai.

Organisasi, struktur, dan mekanisme bertahan tersebut berjalan sepanjang pertandingan dan menjadi faktor utama gawang Ernando Ari tidak kebobolan. Philippe Troussier sebetulnya melakukan sedikit penyesuaian dengan menarik Nguyen Quang Hai sedikit lebih ke belakang. Tujuannya agar Vietnam memiliki opsi umpan tambahan pada fase pertama build up ke arah tengah. Harapanya mereka menciptakan variasi serangan baru dan mengejutkan pertahanan Indonesia.

Perkembangan Variasi Serangan

Sepanjang pertandingan, Vietnam sedikit lebih mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 57 persen. Catatan tersebut sedikit kurang representatif sebab penguasaan bola Vietnam lebih banyak terjadi di babak kedua. Pada babak pertama, praktis Indonesia lebih banyak mendapatkan penguasaan bola. Penguasaan bola yang dilakukan Vietnam cenderung lebih banyak terjadi di area sendiri dan kesulitan memasuki sepertiga akhir pada situasi open play. Meski kalah penguasaan bola, Indonesia lebih sering mengancam dengan catatan 16 tembakan. Lebih baik dari Vietnam yang hanya melepaskan 11 tembakan.

Salah satu faktor utamanya adalah variasi serangan Indonesia yang mulai beragam. Aktor utamanya adalah Ivar Jenner dan Marselino Ferdinan yang berdiri sejajar di lini tengah. Dua pemain ini menjadi mesin kreativitas serangan yang sangat mendukung pergerakan lini depan. Beberapa peluang tercipta dari kreasi dua pemain ini baik dari area tengah, sayap, maupun halfspace.

Jika Marsel dan Ivar dijaga ketat dan kesulitan untuk melakukan umpan-umpan progresif, Indonesia kali ini memiliki tiga bek tengah yang berani melepaskan umpan panjang yang akurat. Beberapa kali Struick mengakses ruang di belakang pertahanan Vietnam menyambut umpan panjang dari Hubner atau Jordi. Tidak hanya itu, di sisi sayap Yakob Sayuri memaksa Vo Minh Trong beradu kecepatan sebab beberapa kali Yakob terbebas di tiang jauh.

Perkembangan dari sisi bertahan dan menyerang sangat terlihat pada lagi ini. Meski demikian, masih banyak aspek yang harus terus ditingkatkan mengingat lawan berikutnya adalah Jepang yang kualitasnya jauh di atas Vietnam. Jika berkaca pada laga-laga sebelumnya, Shin Tae-yong hampir selalu memberikan komposisi pemain yang mengejutkan. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin pada laga terakhir di Grup D tersebut, Shin akan memberi kejutan.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *