Menerjemahkan Optimisme Shin Tae-yong Bertandang ke Irak

FI IRAK VS INDONESIA


Tidak ada yang mustahil dalam sepakbola. Setimpang apapun tim yang akan bertanding, selalu ada peluang bagi tim yang tidak diunggulkan untuk mengalahkan tim yang diunggulkan. Tentu masih segar di ingatan kita ketika Jepang menaklukkan Spanyol dan Jerman pada Piala Dunia 2022. Keyakinan ini yang patut menjadi dasar tim nasional Indonesia dalam laga perdana kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup F.

Bacaan Lainnya

Irak akan menjadi lawan pertama Indonesia di Grup F. Dilihat dari sudut manapun, Irak jelas lebih diunggulkan. Tim berjuluk Singa Mesopotamia tersebut saat ini bertengger di peringkat ke-68 rangking FIFA sementara Indonesia di peringkat ke-145. Terpaut 77 peringkat. Di level Asia, Irak adalah salah satu yang terkuat. Prestasi tertingginya tercipta tahun 2007 ketika Irak keluar sebagai juara Piala Asia di Jakarta.

Meski terpaut jauh, Shin Tae-yong tetap menargetkan kemenangan. Pelatih tim nasional Indonesia tersebut menganggap kemenangan ini penting untuk mendapatkan hasil yang lebih baik pada pertandingan selanjutnya. Ia juga menambahkan bahwa ia telah menyiapkan taktik untuk meredam kekuatan Irak.

“Ini (pertandingan melawan Irak) adalah pertandingan pertama putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2026, yang paling penting adalah mengunci kemenangan dari Irak. Dengan begitu, tentu hasilnya akan baik ke depannya,” ujar Shin Tae-yong dalam rilis resmi PSSI.

“Peringkat FIFA Irak memang lebih baik dari Indonesia, sehingga akan menjadi lawan yang berat bagi kita. Apalagi kita datang sebagai tamu. Tetapi saya akan berusaha semaksimal mungkin, akan membuat taktik yang bisa meredam mereka,” pungkasnya.

Berkaca pada pernyataan Shin Tae-yong, Indonesia diperkirakan akan memberi perlawanan ketat untuk tuan rumah. Bagaimana caranya?

Kekuatan dan Kelemahan Irak

Prestasi Irak sempat terhenti pasca merebut gelar Piala Asia tahun 2007. Tidak ada satu pun gelar yang berhasil mereka rebut. Meski konsisten menjadi salah satu tim terbaik di Asia (setidaknya berkaca pada ranking FIFA), tapi tidak ada peningkatan signifikan yang terjadi. Irak masih kalah bersaing dengan raksasa Asia lain seperti Jepang, Korea Selatan, Qatar, Arab Saudi, dan Iran.

Puasa gelar Irak akhirnya terhenti di tahun 2023 ketika mereka memenangkan Arabian Gulf Cup. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kontribusi besar Jesus Casas. Pelatih asal Spanyol tersebut baru menjabat sebagai pelatih kepala tim nasional Irak pada bulan November tahun 2022. Mantan asisten pelatih Luis Enrique di tim nasional Spanyol tersebut hanya membutuhkan dua bulan untuk mempersembahkan gelar perdananya untuk Irak.

Pada turnamen tersebut, Irak sangat mendominasi dengan mencetak 12 gol tanpa kekalahan. Aymen Hussein dan Ibrahim Bayesh menjadi pencetak gol terbanyak dengan torehan masing-masing tiga gol. Hal ini menunjukan bahwa Irak memiliki lini serang yang sangat produktif.

Kekuatan utama serangan Irak adalah fluiditas pergerakan dan pertukaran posisi dari lima pemain menyerang. Terdiri dari satu penyerang tengah, dua pemain sayap, dua gelandang serang, dan salah satu bek sayap yang overlap. Meski terlihat acak, pergerakan lima pemain ini berorientasi untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain pada area tertentu sambil menciptakan ruang yang lebih besar di area lain.

Ilustrasi Struktur Serangan Irak ketika melawan Yordania (17/10)

Ilustrasi Struktur Serangan Irak ketika melawan Yordania (17/10).

Skema serangan ini didukung oleh tiga pemain di area lebih luar yang diisi oleh dua gelandang dan satu bek sayap yang tidak overlap. Tiga pemain ini bertugas menjaga penguasaan bola, mempercepat sirkulasi di depan sepertiga akhir, sekaligus berperan sebagai rest defense (struktur bertahan pada situasi menyerang untuk mengantisipasi serangan balik).

Ketika memasuki area pertahanan lawan, Irak memiliki berbagai variasi serangan untuk memasuki sepertiga akhir dan menciptakan peluang. Skema yang paling sering digunakan adalah kombinasi umpan pendek di area sayap yang diakhiri dengan umpan silang atau umpan tarik ke lini tengah. Jika cara tersebut gagal, Irak mencari alternatif dengan early cross di area half-space atau penyerang tengah turun menjemput bola untuk menciptakan opsi kombinasi tambahan.

Meski Irak memiliki serangan yang berbahaya, mereka memiliki struktur pertahanan yang renggang. Irak tidak ragu menerapkan high press dengan garis pertahanan tinggi. Tapi, jarak antara lini belakang dengan lini tengah cukup jauh sehingga sering dimanfaatkan lawan untuk lepas dari tekanan Irak. Kelemahan ini sangat berbahaya ketika menghadapi lawan yang memiliki bek tengah atau pivot dengan kemampuan umpan jarak menengah dengan akurasi tinggi.


Ilustrasi Struktur Pertahanan Irak ketika melawan Yordania (17/10)

Ilustrasi Struktur Pertahanan Irak ketika melawan Yordania (17/10).

Harus Manfaatkan Area Sempit

Area sempit akan menjadi barang berharga bagi Indonesia. Struktur pertahanan Irak memang tidak rapat ketika lawan belum memasuki area pertahanan. Tapi ketika lawan memasuki area pertahanan Irak, ruang antar lini sangat sempit. Oleh karena itu, pada pertandingan ini diperkirakan Garuda mampu mengatasi tekanan Irak namun akan kesulitan memasuki area sepertiga akhir.

Situasi ini diperkirakan semakin sulit karena Irak memiliki beberapa pemain yang memiliki atribut bertahan dan menyerang yang seimbang. Amjad Atwan, Osama Rashid, dan Ahmad Allee adalah pemain-pemain yang akan menyulitkan Indonesia di berbagai situasi. Pada situasi ini, Shin Tae-yong dipaksa tidak berharap banyak para pemainnya akan leluasa dalam menciptakan peluang. Salah satu cara yang diperkirakan memiliki efektivitas tinggi adalah dengan memanfaatkan area sempit untuk membongkar pertahanan Irak dan menciptakan peluang sebanyak mungkin.

Metode ini tidak asing bagi para pemain Indonesia. Sejak dibesut oleh Shin, Indonesia berulang kali menunjukkan bahwa mereka mampu memaksimalkan area-area sempit. Hal ini didukung dengan postur tubuh pemain Indonesia yang tidak terlalu besar sehingga pergerakannya lebih leluasa.

Aspek paling penting untuk memanfaatkan area sempit adalah kemampuan membaca situasi dan pengambilan keputusan yang cepat. Dua aspek tersebut perlu didukung dengan atribut teknis seperti akurasi umpan, kecepatan dan efisiensi gerakan. Pemain-pemain seperti Witan Sulaeman, Ricky Kambuaya, Dimas Drajad, Rafael Struick, hingga Arkhan Fikri memiliki aspek-aspek tersebut.

Pentingnya Pemilihan Bek Sayap

Pekerjaan terberat Shin Tae-yong ketika menghadapi Irak adalah menemukan cara meredam serangan Irak yang cukup variatif dan efektif. Produktivitas mereka di Arabian Gulf Cup adalah bukti konkret yang menunjukkan ketajaman serangan Irak. Oleh karena itu, Shin perlu memperhitungkan dan menentukan prioritas aspek apa yang akan ia redam. Sebab, jika ia ingin meredam seluruh aspek serangan Irak justru tidak akan efektif dan berpotensi menjadi bumerang terhadap pertahanan Indonesia.

Seperti yang dibahas dalam bagian sebelumnya, bahwa kekuatan Irak adalah fluiditas lima penyerang mereka. Namun ada catatan kecil bahwa fluiditas tersebut erat kaitannya dengan peran bek sayap. Dua bek sayap Irak memiliki pembagian peran jelas bergantung pada arah serangan. Jika serangan diarahkan ke kiri, maka bek sayap kanan bergabung bersama gelandang untuk menjadi bagian dari rest defense. Begitu pun sebaliknya.

Selain itu, metode yang paling sering digunakan Irak untuk menembus sepertiga akhir lawan adalah dengan wide overload (menciptakan situasi unggul jumlah pemain di salah satu sayap). Metode ini melibatkan penyerang sayap, bek sayap, gelandang serang, penyerang, dan dukungan dari gelandang bertahan. Dari segi efektivitas, wide overload milik Irak sangat berbahaya sebab pemain-pemain yang terlibat terlihat telah memahami pergerakan satu sama lain.

Untuk mengantisipasi senjata utama Irak, Shin Tae-yong harus jeli dalam memilih bek sayap. Sebab, bek sayap secara natural akan menjadi pemain yang paling sering berhadapan dan direpotkan. Berdasarkan penampilan di laga-laga sebelumnya, Shin memiliki beberapa opsi di posisi bek sayap tergantung respon taktik yang akan ia terapkan.

Asnawi Mangkualam dan Pratama Arhan lebih cocok dipasang jika Shin Tae-yong ingin membatasi pergerakan sayap Irak dengan intensitas dan kecepatan. Dua pemain ini memiliki atribut yang cocok untuk mengeksekusi rencana tersebut. Namun, jika Shin ingin mengantisipasi dengan kontrol dan duel, Sandy Walsh dan Shayne Pattynama diperkirakan lebih cocok mengisi bek sayap.





Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *