Piala Dunia U-17: Bukan Ajang Mencari Penonton, Tapi Salah Satu Ajang Pembinaan

[ad_1]

Jika mengamati tribun stadion tempat digelarnya pertandingan Piala Dunia U-17, kita akan mendapati banyak kursi kosong. Riuh penonton terdengar di beberapa momen saja. Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pun tidak penuh saat Indonesia bermain.

Bacaan Lainnya

Pada 19 September silam, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan bahwa target penonton di tiap laga Piala Dunia U-17 adalah 10-18 ribu penonton. PSSI pun melakukan berbagai acara untuk menarik antusiasme masyarakat terhadap turnamen dua tahunan ini.

“Artinya daya dongkrak penonton Timnas Indonesia U-17 itu penting untuk pemerataan ticketing. Kalau kita lihat kemarin hasil undian lawan Inggris atau Amerika mungkin beda lagi,” ujar Erick dilansir CNN Indonesia.

Jika berkaca dari target tersebut, maka hanya ada tiga pertandingan hingga 13 November yang memenuhi target. Pertandingan itu yakni antara Panama vs Maroko yang digelar sebelum laga Indonesia vs Ekuador, Jumat (10/11) dihadiri sebanyak 13.437 penonton, pertandingan antara Indonesia melawan Ekuador yang dihadiri 30.589 penonton, serta saat Indonesia menjamu Panama (13/11), yang dihadiri 17.239 penonton.

Di pertandingan negara-negara lain, jumlah penonton yang datang ke stadion lebih sedikit lagi. Laga antara Venezuela melawan Selandia Baru di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, misalnya, hanya dihadiri 2.932 penonton.

Hingga hari kedua penyelenggaraan (11/11), total ada 80.797 penonton yang datang langsung ke stadion, di mana pertandingan Indonesia adalah pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak. Jumlah tersebut sebenarnya hampir mendekati separo jumlah penonton yang hadir di edisi Brasil 2019.

Dalam edisi 2019, jumlah total penonton yang hadir ke stadion adalah 174,603 ribu atau rata-rata 3.358 per pertandingan. Jumlah penonton edisi 2019 memang turun dibanding edisi 2017 yang digelar di India. Total 1.347.133 penonton memadati stadion dengan rata-rata 25.906 penonton per pertandingan. Jumlah ini merupakan jumlah penonton terbanyak sejak turnamen ini digelar pertama kali pada 1985.

Mundur ke edisi 2015 yang digelar di Chili, sebanyak 482.490 penonton hadir ke stadion dengan rata-rata 9.279 penonton di tiap pertandingan. Di edisi 2013, 318.108 menonton pertandingan dalam turnamen yang digelar di Uni Emirates Arab tersebut. Rata-rata tiap pertandingan dihadiri 6.117 penonton.

Jumlah Penonton Tergantung Performa Timnas

Piala Dunia U-17 ini masih menyisakan banyak laga. Indonesia pun masih berpeluang lolos ke fase gugur asal bisa meraih kemenangan di laga melawan Maroko pada Kamis (16/11).

Jika Indonesia bisa lolos ke fase gugur, kemungkinan jumlah penonton yang datang menyaksikan Arkhan Kaka dan kawan-kawan berlaga akan makin banyak.

Turnamen Piala AFF U-16 2022 bisa menjadi contohnya. Di laga awal fase grup antara Indonesia melawan Filipina, penonton yang datang ke Stadion Maguwoharjo sebagai venue turnamen hanya 1.439.

Di pertandingan kedua melawan Singapura, jumlahnya naik menjadi 1.759. Di laga terakhir fase grup melawan Vietnam, jumlahnya melonjak drastis hingga 10.599.

Di babak semifinal, 9.427 penonton hadir pada laga melawan Myanmar itu. Jumlah penonton kembali naik di laga final melawan Vietnam, yakni 22.579.


Jadi, performa timnas memang sangat berpengaruh terhadap animo masyarakat. Namun jangan lupakan pula bahwa Piala Dunia U-17 ini erat kaitannya dengan pembinaan pemain.

Piala Dunia U-17 Sebagai Pembinaan

Alih-alih prestasi, turnamen kelompok umur di negara dengan iklim sepakbola yang baik memang identik dengan pembinaan. Prestasi tertinggi tetap berada di level senior.

Di level Piala Dunia U-17 pun, tuan rumah tidak terlalu jor-joran untuk mengeluarkan biaya. Piala Dunia bagi para remaja ini berlangsung sewajarnya saja, dan bahkan sering dihelat di stadion-stadion dengan kapasitas di bawah 10.000.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejak awal, skuad yang dipersiapkan adalah U-20, sedangkan skuad U-17 nyaris tanpa persiapan apa-apa. Para pemainnya tidak berlaga secara reguler di klub, sedangkan Indonesia U-17, terakhir kali bermain pada Oktober 2022 pada turnamen Kualifikasi Piala Asia.

Firzie A Idris, jurnalis olahraga Kompas, mengatakan bahwa membicarakan sepakbola usia muda adalah membicarakan pembinaan.

“Bahwa apa yang terjadi di sini bukan adalah suatu yang final. Kalah, menang, di sini juara atau tidak, itu bukan. Perjalanan mereka masih sangat jauh,” katanya kepada redaksi Pandit Football, Senin (13/11).

“Jadi memang pengembangan dari tim ini dari Piala AFF U-16, setelah itu belum berhasil ke Piala Asia U-17, dan sekarang main di Piala Dunia U-17 menurut saya harus menjadi perkembangan yang continue yang menciptakan layer baru timnas, bukan hanya U-23, tapi juga harapannya adalah beberapa pemain dari generasi ini bisa jadi pemain timnas senior,” lanjutnya.

Jumlah penonton yang datang ke stadion untuk Piala Dunia U-17 ini menurut Firzie cukup banyak, meski memang belum memenuhi target.

Saat ditanya mengenai apa yang bisa menjadi warisan setelah Piala Dunia U-17 ini usai, Firzie mengaitkannya dengan konteks pembinaan. Menurutnya, Elite Pro Academy (EPA) harus berjalan dan Liga 1 hingga Liga 3 harus dibenahi agar fokusnya tidak hanya berada di Liga 1 semata.

“Untuk pengembangan usia muda, bahwa kita lihat skill-skill pemain luar biasa di level U-17. Mulai dari dribbling, kontrol, pasing, meski mungkin hanya 30% pemain yang ikut di turnamen ini yang akan menjadi pemain profesional. Itu yang harus kita kejar,” ujar Firzie.



[ad_2]

Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *